LIVEMinggu, 11 Oktober 2026
Ayo Dukung Produk UMKM IndonesiaKLIK DI SINI
BREAKING NEWS
Beranda›politik›Sejarah Hari Kesaktian Pancasila yang Diperingati Setiap 1 Oktober
politik

Sejarah Hari Kesaktian Pancasila yang Diperingati Setiap 1 Oktober

Sejarah Hari Kesaktian Pancasila yang Diperingati Setiap 1 Oktober

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila setiap tahun. Peringatan ini berkaitan dengan rangkaian peristiwa politik dan kekerasan pada akhir September hingga awal Oktober 1965, termasuk penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira TNI Angkatan Darat.

Hari Kesaktian Pancasila berbeda dari Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni. Hari Lahir Pancasila merujuk pada pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 mengenai dasar negara, sedangkan 1 Oktober dikaitkan dengan peristiwa 1965 dan penetapan tanggal tersebut sebagai hari peringatan nasional.

Rangkaian peristiwa yang melatarbelakangi peringatan itu berlangsung pada 30 September hingga 1 Oktober 1965. Dalam peristiwa tersebut, enam jenderal TNI Angkatan Darat dan seorang perwira pertama, Pierre Andreas Tendean, menjadi korban penculikan dan pembunuhan.

Enam jenderal yang menjadi korban adalah Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Suprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, dan Brigjen Sutoyo Siswomiharjo. Mereka kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi bersama Pierre Tendean.

Jenazah para korban kemudian ditemukan di sebuah sumur di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Lokasi itu kemudian menjadi bagian penting dari Monumen Pancasila Sakti, yang hingga kini menjadi tempat berlangsungnya peringatan Hari Kesaktian Pancasila tingkat nasional.

Dalam narasi resmi pemerintah pada masa itu, peristiwa tersebut disebut sebagai pengkhianatan G30S/PKI. Namun, kajian sejarah mengenai peristiwa 1965 juga berkembang, dan terdapat perdebatan akademik mengenai aktor, latar belakang, serta rangkaian sebab terjadinya peristiwa tersebut.

Penyelenggaraan peringatan Hari Kesaktian Pancasila sudah dimulai sebelum penetapan resmi melalui keputusan presiden. Pada 17 September 1966, Menteri/Panglima Angkatan Darat mengeluarkan keputusan yang menjadi salah satu dasar awal penyelenggaraan peringatan 1 Oktober.

Setahun kemudian, pemerintah menetapkan tanggal tersebut secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967 tentang Penetapan Tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Keputusan itu ditetapkan di Jakarta pada 27 September 1967 dan mulai berlaku pada tanggal yang sama.

Keppres tersebut menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila dan mengatur agar peringatan dilaksanakan oleh seluruh rakyat Indonesia secara khidmat dan tertib.

Kawasan Lubang Buaya kemudian menjadi salah satu lokasi penting dalam sejarah peringatan ini. Monumen Pancasila Sakti dibangun di area tersebut dan diresmikan pada 1 Oktober 1973 oleh Presiden Soeharto.

Kompleks Monumen Pancasila Sakti berada di Jakarta Timur dan saat ini tercatat sebagai cagar budaya tingkat nasional. Kawasan itu mencakup sejumlah bangunan dan lokasi yang berkaitan dengan peristiwa 1965, termasuk sumur tempat ditemukannya jenazah para korban.

Sejak itu, upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila tingkat nasional secara rutin dikaitkan dengan kawasan Monumen Pancasila Sakti. Dalam beberapa tahun terakhir, upacara tersebut tetap dilaksanakan sebagai agenda kenegaraan untuk mengenang para korban sekaligus mengingatkan kembali perjalanan sejarah bangsa.

Peringatan pada 1 Oktober juga dimaknai sebagai momentum untuk mengenang rangkaian peristiwa sejarah 1965 dan para korban yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi. Dalam perkembangannya, peringatan itu ditempatkan sebagai pengingat kedudukan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara.

Pemerintah melalui berbagai kegiatan peringatan mendorong agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dengan demikian, sejarah Hari Kesaktian Pancasila mencakup peristiwa 1965, proses penetapan 1 Oktober sebagai hari peringatan, pembangunan Monumen Pancasila Sakti, dan tradisi upacara kenegaraan yang masih berlangsung hingga sekarang.

Penulis

Redaksi politik

Akun redaksi KabarDPR untuk kategori politik.