crypto

Apakah Shiba Inu Bisa USD 1 di 2026? Temukan Jawabannya!

Di tengah euforia aset kripto yang kerap memunculkan prediksi ekstrem, pertanyaan soal Shiba Inu atau SHIB kembali mencuat: apakah token ini bisa benar-benar menyentuh USD 1 pada 2026? Secara teori, angka itu terdengar menggoda. Namun, jika melihat struktur suplai, kapitalisasi pasar, dan skala ekonomi global, target tersebut justru tampak semakin jauh dari realitas.

SHIB saat ini masih dibayangi satu masalah utama yang sulit diabaikan, yakni suplai token yang sangat besar. Dengan total pasokan mencapai 589,2 triliun token dan harga di kisaran USD 0,000006 per token, kapitalisasi pasarnya berada di sekitar USD 3,6 miliar. Angka ini memang masih cukup besar untuk sebuah aset kripto berbasis komunitas, tetapi akan berubah menjadi sesuatu yang nyaris tak masuk akal jika SHIB benar-benar naik ke USD 1.

Kenapa USD 1 untuk SHIB jadi masalah besar?

Secara matematis, harga USD 1 per token akan mendorong kapitalisasi pasar SHIB ke sekitar USD 589,2 triliun. Nilai ini bukan sekadar tinggi, melainkan jauh melampaui ukuran pasar aset dan perusahaan terbesar di dunia saat ini. Sebagai perbandingan, Nvidia disebut bernilai sekitar USD 4,8 triliun, sementara total nilai emas dunia diperkirakan sekitar USD 36 triliun. Artinya, SHIB pada level USD 1 akan berada di wilayah valuasi yang belum pernah terlihat dalam sejarah pasar modern.

Di titik ini, tantangannya bukan hanya soal optimisme investor, tetapi juga logika pasar. Agar harga naik setinggi itu, permintaan harus tumbuh luar biasa besar, sementara suplai harus menyusut drastis. Masalahnya, keduanya sama-sama belum menunjukkan tanda yang cukup kuat untuk mendukung skenario tersebut dalam waktu dekat.

Upaya pembakaran token belum cukup mengubah arah

Komunitas Shiba Inu sebenarnya tidak tinggal diam. Salah satu langkah yang terus didorong adalah mekanisme pembakaran token, yakni mengirim SHIB ke dompet mati agar token tersebut tidak bisa dipakai lagi. Tujuannya jelas: mengurangi suplai dan memberi tekanan naik pada harga.

Namun, laju pembakaran yang terjadi sejauh ini masih terlalu kecil dibanding ukuran suplai yang ada. Dengan rata-rata pembakaran sekitar 1,23 miliar token per tahun, dibutuhkan waktu kurang lebih 479.000 tahun untuk memangkas suplai ke level yang secara teori bisa membuka jalan menuju harga USD 1. Angka ini menunjukkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi SHIB jika hanya mengandalkan pembakaran token sebagai solusi.

Karena itu, meski narasi “token murah yang bisa jadi mahal” selalu menarik perhatian pasar ritel, struktur pasokannya membuat lonjakan harga ekstrem sulit dibayangkan tanpa perubahan fundamental yang sangat besar.

Proyeksi 2026 dan realitas yang harus dihadapi investor

Melihat ke 2026, target USD 1 tampak semakin sulit dipertahankan sebagai skenario yang realistis. Dana Moneter Internasional atau IMF memperkirakan output ekonomi global pada tahun tersebut berada di sekitar USD 123,6 triliun. Jika dibandingkan dengan valuasi SHIB pada harga USD 1, angka itu tetap belum cukup untuk menopang kapitalisasi pasar sebesar USD 589,2 triliun.

Selain itu, sekalipun harga token naik, keuntungan riil investor belum tentu ikut melonjak secara proporsional. Pasalnya, jumlah token yang dimiliki investor sangat bergantung pada distribusi awal dan strategi akumulasi masing-masing. Ditambah lagi, faktor inflasi dalam jangka panjang bisa menggerus daya beli hasil investasi, terutama jika target harga tersebut baru tercapai dalam horizon waktu yang sangat panjang.

Berdasarkan kondisi saat ini, SHIB masih lebih layak dipandang sebagai aset spekulatif dengan potensi volatilitas tinggi daripada kandidat kuat untuk menembus USD 1 dalam waktu dekat. Harapan komunitas memang terus hidup, tetapi angka-angka dasar di baliknya justru menunjukkan hal sebaliknya.