Harga Bitcoin terus tertekan akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Aset kripto terbesar di dunia ini turun di bawah USD 67.000 pada Minggu malam, setelah pulih dari aksi jual tajam menyusul serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran serta serangan balasan di kawasan tersebut. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin mengalami koreksi sekitar 1%, seiring dengan penurunan kontrak berjangka saham AS, mencerminkan kekhawatiran investor global terhadap eskalasi konflik.
Pada Sabtu dini hari, harga Bitcoin sempat turun ke kisaran USD 63.255 akibat ketegangan yang meningkat. Namun pada hari yang sama, Bitcoin melonjak kembali di atas USD 68.000 setelah laporan muncul bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, disebut tewas. Tak hanya Bitcoin, Ether juga terdampak dengan diperdagangkan di kisaran USD 1.950 pada Minggu setelah mengalami penurunan sekitar 10% pasca serangan.
Head of Digital Assets Fundstrat, Sean Farrell, menyatakan bahwa ketahanan kripto di tengah eskalasi geopolitik menjadi sinyal positif bagi pasar. Ketahanan tersebut membuka peluang kenaikan secara taktis seiring dengan berkurangnya posisi defensif investor. Pelaku pasar perlu memperhatikan dan menganalisis sebelum melakukan keputusan investasi terhadap kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

