crypto

Investor Kripto Menghasilkan 20,70 Juta pada Januari 2026

Jumlah Konsumen Aset Kripto Tembus 20,70 Juta, OJK Soroti Partisipasi yang Masih Kuat di Awal 2026

Jakarta — Awal 2026 dibuka dengan satu sinyal yang cukup jelas dari pasar aset digital Indonesia: minat masyarakat belum surut. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah konsumen pedagang aset keuangan digital terus bertambah dan mencapai 20,70 juta pada Januari 2026. Angka ini naik 2,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Di tengah pergerakan harga kripto yang tidak selalu stabil, pertumbuhan jumlah konsumen menunjukkan bahwa ekosistem aset keuangan digital masih punya daya tarik besar di mata publik. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi, menilai kenaikan tersebut sebagai cerminan tingginya partisipasi masyarakat dalam ruang aset digital di Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Hasan dalam Konferensi Pers Hasil RDKB OJK Februari 2026. Menurut dia, data Januari memperlihatkan bahwa basis pengguna terus melebar, meski pada saat yang sama pasar juga menghadapi koreksi di sisi transaksi.

Jumlah Pengguna Naik, Pasar Tetap Bergerak

Data OJK memperlihatkan bahwa pertumbuhan konsumen tidak otomatis diikuti penguatan nilai transaksi. Pada Januari 2026, nilai transaksi aset kripto justru turun 10,53 persen menjadi Rp29,24 triliun dari bulan sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan aktivitas pasar yang lebih hati-hati, meski jumlah pengguna tetap bertambah.

Fenomena serupa juga terlihat pada instrumen derivatif aset keuangan digital. Nilai transaksinya tercatat sebesar Rp8,01 triliun, turun 6,88 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Koreksi ini disebut sejalan dengan melemahnya harga sejumlah aset kripto utama yang memengaruhi minat transaksi di pasar derivatif.

Dengan kata lain, Januari 2026 menjadi bulan yang memperlihatkan dua arah gerak sekaligus: jumlah konsumen terus naik, tetapi nilai transaksi justru terkoreksi. Bagi OJK, kondisi ini penting dicermati karena menunjukkan bahwa pertumbuhan ekosistem digital tidak selalu bergerak lurus dengan volume perdagangan.

Partisipasi Masyarakat Masih Tinggi di Tengah Koreksi Harga

Hasan Fawzi menekankan bahwa tingginya jumlah konsumen menjadi salah satu indikator bahwa masyarakat Indonesia masih aktif mengikuti perkembangan aset keuangan digital. Meski pasar mengalami tekanan di beberapa sisi, ketertarikan publik belum menunjukkan pelemahan yang berarti.

Lonjakan konsumen hingga 20,70 juta juga menegaskan bahwa aset digital telah menjadi bagian dari pilihan investasi dan aktivitas keuangan yang semakin dikenal luas. Namun, data transaksi yang menurun memberi gambaran bahwa para pelaku pasar tampak lebih selektif dalam mengambil posisi di tengah kondisi harga yang kurang mendukung.

Dalam konteks ini, OJK tampaknya melihat pasar kripto Indonesia berada pada fase yang cukup dinamis: basis pengguna bertambah, tetapi perilaku transaksi masih dipengaruhi oleh sentimen harga global maupun domestik. Koreksi pada nilai perdagangan menjadi pengingat bahwa ekosistem ini masih sangat sensitif terhadap pergerakan aset utama.

OJK Soroti Dinamika Ekosistem Aset Digital

Melalui pemaparan hasil RDKB Februari 2026, OJK kembali menempatkan aset keuangan digital sebagai sektor yang terus berkembang dan layak dipantau ketat. Kenaikan konsumen menjadi kabar positif bagi perluasan partisipasi masyarakat, tetapi penurunan transaksi menunjukkan bahwa pasar masih menghadapi tantangan dalam menjaga momentum.

Data Januari 2026 ini sekaligus menegaskan bahwa pertumbuhan jumlah pengguna belum tentu berarti peningkatan aktivitas perdagangan secara langsung. Di tengah koreksi harga beberapa aset kripto utama, pasar justru bergerak lebih hati-hati, meski minat masyarakat tetap terjaga.

Informasi mengenai perkembangan ini disampaikan OJK dalam Konferensi Pers Hasil RDKB Februari 2026, yang menjadi rujukan utama atas data konsumen dan transaksi aset keuangan digital pada awal tahun tersebut.