Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan utang proyek Kereta Cepat Whoosh akan dicicil hingga 80 tahun setelah melalui restrukturisasi. Besaran cicilan disebut sekitar Rp1 triliun, atau sedikit di bawah Rp1 triliun per tahun.
Purbaya menyebut tenor panjang itu merupakan hasil restrukturisasi utang Whoosh. Ia menilai beban pembayaran tahunan masih bisa ditangani pemerintah.
Dalam pernyataannya di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Selasa (8/9), Purbaya mengatakan, “Berarti kan total utang besar, tapi di-stretch 80 tahun sudah direstrukturisasi. Cicilannya Rp1 triliun atau sedikit di bawah Rp1 triliun dari tahun ke tahun. Ada yang tinggi, ada yang rendah, tapi kalau kita lihat, ‘oh masih bisa lah’. (Tenor cicilan) 80 tahun saya dengar kemarin, makanya hebat juga tuh. Iya kita sudah mati, santai saja.”
Purbaya juga mengatakan pengelolaan kewajiban utang Whoosh akan dialihkan dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara ke Kementerian Keuangan pada 15 September 2026.
Setelah itu, pembayaran kewajiban tersebut berpotensi ditangani oleh Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan atau Indonesia Investment Authority (INA).
“Ada kemungkinan, mungkin kita pakai SMV atau INA,” ujarnya.
Menurut Purbaya, besaran kewajiban tahunan itu masih dapat ditangani oleh satu entitas SMV di bawah Kementerian Keuangan. Ia juga memastikan dana untuk membayar kewajiban tersebut tersedia.
“Jadi gini, saya cuma lihat bebannya setiap tahun seperti apa sih, saya lihat setiap tahun saya lihat, ‘oh kalau segini saja cukup lah ditangani oleh satu SMV’. Satu perusahaan SMV di bawah Departemen Keuangan, atau dua, tapi uangnya cukup lebih,” kata Purbaya.
Sebelumnya, Purbaya juga menyampaikan SMV yang nantinya menangani kewajiban Whoosh tidak perlu mencari investor baru untuk mendapatkan dana pembayaran utang. Ia menilai kemampuan keuangan SMV Kementerian Keuangan saat ini cukup untuk menangani kewajiban tersebut, meski pemerintah masih akan menghitung lebih lanjut sebelum menetapkan skema pengelolaannya.
Dalam kesempatan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta Pusat, Senin (7/9), Purbaya mengatakan, “Nggak, sudah ada uangnya. Sudah ada juga. Kan kalau SMV, let’s say satu perusahaan SMV aja, keuntungannya berapa sekarang? Rp3 triliun, Rp4 triliun setahun. Ditambah dengan operasionalnya sendiri, mungkin dapat Rp800 miliar keuntungannya.”
Sumber: CNN Indonesia



