LIVEMinggu, 11 Oktober 2026
Ayo Dukung Produk UMKM IndonesiaKLIK DI SINI
BREAKING NEWS
Beranda›Ekonomi›Purbaya: APBN Aman Jika Harga Minyak Tembus US$100, Defisit di Bawah 3%
Ekonomi

Purbaya: APBN Aman Jika Harga Minyak Tembus US$100, Defisit di Bawah 3%

Purbaya Akan Evaluasi Dampak Kerja Sama Perdagangan Bebas ke Industri RI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih memiliki ruang untuk menghadapi lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus US$100 per barel. Ia menyebut perhitungan fiskal pemerintah sudah memperhitungkan skenario tersebut.

“Anggarannya masih cukup seperti yang kita hitung sebelumnya,” ujar Purbaya saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (10/9).

Purbaya mengatakan pemerintah belum berencana menambah kuota subsidi energi meski harga minyak global meningkat. Menurut dia, pemerintah akan terus memantau pergerakan harga minyak untuk menentukan langkah berikutnya.

“Belum (ada rencana menambah kuota subsidi). Kita harus pantau terus perkembangannya. Jangan sampai naik lebih tinggi lagi,” ujarnya saat ditanya mengenai kemungkinan penambahan kuota subsidi energi.

Ia menjelaskan, asumsi fiskal yang digunakan pemerintah telah memasukkan harga minyak sekitar US$100 per barel. Dalam skenario itu, defisit APBN dipatok sebesar 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Dengan asumsi pada waktu itu kan 2,85 persen itu asumsi US$100 per barel. Walaupun diturunkan sedikit, kan rata-rata sekarang masih di bawah US$90 kalau tidak salah harga minyak dunianya yang kita bayar untuk asumsi APBN. Jadi, masih ada ruang,” kata Purbaya.

Menurut dia, pemerintah memiliki pengalaman dalam menghadapi periode harga minyak tinggi. Karena itu, kenaikan harga saat ini dinilai belum perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

“Seandainya naik ke level yang sekarang dan bertahan di sini pun, kita kan sudah pernah mengalami. Jadi jangan terlalu khawatir. Kita akan atur anggaran kita tetap berkesinambungan dengan defisit tetap ditekan di bawah 3 persen,” terangnya.

Purbaya juga menyampaikan bahwa posisi fiskal saat ini masih relatif terjaga. Defisit APBN hingga Juli-Agustus masih berada di bawah 1 persen.

“Sekarang saja defisitnya baru 0,91 persen. Juli-Agustus 0,95 lah, enggak naik banyak,” ujarnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga minyak dunia belum akan langsung menekan daya beli mayoritas masyarakat. Pemerintah masih memberikan subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM) tertentu.

“Kalau di-absorb di APBN kan enggak. Sebagian mungkin yang Pertamax yang nggak bersubsidi akan terkena. Tapi kan masyarakat umum daya belinya nggak terganggu. Yang umum yang pakai Pertalite masih disubsidi,” kata Purbaya.

Harga minyak dunia kembali berada di atas level US$100 per barel pada perdagangan Kamis (10/9). Kenaikan itu terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan yang semakin parah akibat eskalasi serangan Iran dan Amerika Serikat (AS) terhadap kapal-kapal di kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 0,1 persen menjadi US$101,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$96,55 per barel atau naik 0,5 persen.

Sumber: CNN Indonesia

Penulis

Redaksi_Ekonomi

Redaksi Ekonomi KabarDPR bertugas menyajikan informasi dan pemberitaan seputar perkembangan ekonomi nasional dan global, kebijakan fiskal dan moneter, dunia usaha, investasi, perdagangan, perbankan, pasar modal, industri, UMKM, ketenagakerjaan, energi, serta ekonomi digital.