Strategy kembali menambah Bitcoin di tengah tekanan pasar, dan kali ini langkahnya punya makna simbolis: pembelian ke-100 sejak perusahaan itu mulai agresif menumpuk aset digital pada 2020. Pada Senin, 23 Februari 2026, perusahaan kripto yang dipimpin Michael Saylor itu mengumumkan pembelian Bitcoin terkecilnya tahun ini, senilai USD 40 juta atau sekitar Rp 673 miliar. Tambahan tersebut membuat total kepemilikan Strategy naik menjadi 717.722 Bitcoin.
Dengan harga Bitcoin yang saat ini berada di kisaran USD 65.500 menurut data CoinGecko, nilai kepemilikan perusahaan tersebut kini mencapai sekitar USD 47 miliar atau setara Rp 790,7 triliun. Angka itu kembali menegaskan betapa besar taruhan Strategy terhadap Bitcoin, meski pasar belum sepenuhnya memberi hadiah atas strategi tersebut.
Pembelian kecil, pesan yang besar
Walau nominal transaksi kali ini lebih kecil dibanding pembelian sebelumnya, langkah itu tetap menarik perhatian karena terjadi di saat perusahaan masih menanggung kerugian belum terealisasi yang besar. Strategy tercatat masih menghadapi kerugian kertas sekitar USD 6,8 miliar atau Rp 114,4 triliun. Namun, alih-alih memperlambat akumulasi, perusahaan justru kembali masuk pasar.
Di bursa, saham Strategy juga bergerak turun 2,5% pada hari Senin ke level USD 127. Meski demikian, posisi saham tersebut masih lebih tinggi dibanding beberapa pekan sebelumnya. Gambaran jangka panjangnya tetap berat: dalam enam bulan terakhir, saham Strategy tercatat anjlok 64%.
Las Vegas jadi panggung arah baru Strategy
Pengumuman pembelian ini berbarengan dengan konferensi perusahaan di Las Vegas, yang disebut sebagai momen penting bagi arah Strategy ke depan. Acara itu dibuka dengan pidato utama Michael Saylor, pendiri sekaligus Ketua Eksekutif Strategy, yang menyoroti pergeseran perusahaan menuju konsep “kredit digital”.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Strategy tidak sekadar membeli Bitcoin sebagai aset cadangan, tetapi juga sedang membangun narasi bisnis yang lebih luas di seputar ekosistem digital. Dalam konteks itu, setiap pembelian baru bukan hanya soal penambahan jumlah koin, melainkan juga sinyal bahwa manajemen masih yakin dengan strategi jangka panjangnya.
Pembiayaan lewat saham biasa, setelah sempat andalkan preferen
Transaksi terbaru ini dibiayai dari hasil penerbitan saham biasa. Dalam beberapa pekan sebelumnya, Strategy lebih sering mengandalkan saham preferen dengan suku bunga variabel untuk mendanai akuisisi Bitcoin. Perubahan sumber pendanaan ini menunjukkan perusahaan masih aktif mencari cara untuk menjaga mesin pembeliannya tetap berjalan, meski kondisi pasar saham dan kripto sama-sama tidak mudah.
Dengan tambahan terbaru tersebut, Strategy kini telah melakukan pembelian Bitcoin yang ke-100 sejak perusahaan ini didirikan pada 2020. Angka itu bukan hanya menandai konsistensi, tetapi juga memperlihatkan betapa jauh perusahaan ini bergeser dari model bisnis tradisional ke pendekatan yang nyaris sepenuhnya bertumpu pada keyakinan terhadap Bitcoin sebagai aset utama.
Di tengah volatilitas harga dan tekanan pada saham, Strategy tampaknya masih memilih satu arah yang sama: terus menambah kepemilikan, sekalipun langkah itu berarti menanggung risiko yang belum juga selesai dihitung pasar.
