LIVESabtu, 10 Oktober 2026
Ayo Dukung Produk UMKM IndonesiaKLIK DI SINI
BREAKING NEWS
Beranda›Ekonomi›Pedagang Tahu Tempe Perkecil Ukuran Produk akibat Biaya Produksi Naik
Ekonomi

Pedagang Tahu Tempe Perkecil Ukuran Produk akibat Biaya Produksi Naik

Pedagang Tahu Tempe Perkecil Ukuran Produk akibat Biaya Produksi Naik

Perajin tahu dan tempe di pasaran terpaksa memperkecil ukuran produk untuk menahan kenaikan harga jual di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat. Wakil Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Kusnoto mengatakan, beban yang mereka hadapi tidak hanya berasal dari kedelai, tetapi juga dari sejumlah komponen biaya lain.

“Kalau sekarang bukan hanya kedelai saja. Plastik naik, minyak goreng naik, daya beli juga seperti ini,” kata Kusnoto dikutip detikcom, Sabtu (3/10).

Kusnoto menyebut lonjakan harga kedelai impor menjadi salah satu tekanan utama. Harga komoditas itu naik dari Rp9.500 menjadi Rp11.600 hingga Rp12.000 per kilogram (kg).

Selain kedelai, perajin juga menghadapi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), plastik kemasan, minyak goreng, dan ongkos logistik. Harga plastik kemasan disebut naik dari kisaran Rp20.000-Rp25.000 menjadi Rp35.000-Rp45.000 per kg.

Kurs dolar AS juga disebut ikut menambah tekanan biaya, dari kisaran Rp14.500-Rp15.500 pada 2022 menjadi Rp18.000 pada 2026. Sementara itu, harga minyak goreng seperti Minyakita naik dari HET Rp14.000 menjadi Rp15.700 per liter.

Di tengah kondisi tersebut, harga jual tahu dan tempe ukuran tertentu tetap ditahan agar tidak semakin memberatkan pembeli. Data Gakoptindo mencatat, harga jual tempe ukuran 250 gram dan tahu 500 gram saat ini dipertahankan di angka Rp5.000.

Kusnoto menjelaskan, perajin khawatir kenaikan harga justru membuat pembeli berpaling. Karena itu, salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkecil ukuran produk tanpa mengubah harga jual.

Ia mencontohkan, jika seorang perajin menggunakan 1 kuintal kedelai dalam sehari, hasil produksinya biasanya mencapai 22 batang tempe. Dengan harga jual Rp10 ribu per batang, tempe yang sebelumnya dipotong menjadi enam bagian kini harus diiris menjadi tujuh bagian dalam satu batang dengan harga yang tetap sama.

Meski begitu, margin keuntungan perajin disebut semakin tipis. Sebagian produsen bahkan terpaksa mengurangi skala produksi, dan sudah ada yang menghentikan produksi karena tidak sanggup menanggung beban operasional yang membengkak.

Gakoptindo juga menilai program stabilisasi dan subsidi kedelai sekitar 250 ribu ton senilai Rp500 miliar yang disiapkan pemerintah belum dirasakan langsung oleh perajin di lapangan. Menurut Kusnoto, skema itu baru bisa digunakan ketika harga kedelai menembus Rp12.500-Rp13.000 per kg.

Dalam pernyataannya, Kusnoto mengatakan bahwa jika harga terus naik, perajin yang memiliki modal masih mungkin tetap berproduksi. Namun, ia menilai tidak sedikit perajin yang pada akhirnya akan berhenti berproduksi atau gulung tikar.

Sumber: CNN Indonesia

Penulis

Redaksi_Ekonomi

Redaksi Ekonomi KabarDPR bertugas menyajikan informasi dan pemberitaan seputar perkembangan ekonomi nasional dan global, kebijakan fiskal dan moneter, dunia usaha, investasi, perdagangan, perbankan, pasar modal, industri, UMKM, ketenagakerjaan, energi, serta ekonomi digital.