Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengatakan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober harus menjadi momentum untuk menyejahterakan perajin sekaligus menjaga keberlanjutan keterampilan membatik.
Menurut Lestari, kebanggaan terhadap batik tidak cukup berhenti pada penggunaan batik semata. Ia menilai penghargaan itu perlu diwujudkan dalam langkah nyata agar warisan budaya tersebut tetap hidup, para perajin dapat hidup layak, keterampilannya diwariskan, dan hasil karyanya memperoleh tempat yang adil di pasar.
“Memakai batik merupakan bentuk penghargaan. Penghargaan itu perlu dilanjutkan dengan memastikan para perajinnya dapat hidup layak, keterampilannya diwariskan, dan hasil karyanya memperoleh tempat yang adil di pasar,” kata dia.
Lestari juga menyoroti kondisi industri batik dari sisi budaya dan ekonomi. Menurutnya, batik memiliki peluang sebagai produk budaya sekaligus ekonomi, tetapi masih menghadapi tekanan pasar dan persoalan regenerasi.
Merujuk data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), ia menyebut jumlah perajin batik turun sekitar 20 persen sepanjang 2019–2023, dari sekitar 131 ribu menjadi 105 ribu orang. Kondisi itu, kata dia, menunjukkan perlunya upaya agar profesi pembatik memiliki prospek yang menarik bagi generasi muda.
“Regenerasi tidak cukup dijawab dengan ajakan agar anak muda mencintai batik. Mereka juga harus melihat bahwa menjadi pembatik adalah pekerjaan yang memiliki masa depan, dengan penghasilan yang layak, kesempatan berkembang, dan penghargaan terhadap keahliannya,” katanya.
Pengakuan UNESCO dan tanggung jawab pelestarian
Selain menyoroti aspek ekonomi, Lestari mengingatkan bahwa pengakuan UNESCO terhadap batik juga harus diikuti dengan pelestarian yang berkelanjutan. Pada 2009, UNESCO memasukkan Indonesian Batik ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, yang mencakup teknik, simbolisme, pengetahuan, dan keterampilan yang diwariskan antargenerasi.
“Pengakuan UNESCO membawa tanggung jawab untuk menjaga warisan itu tetap hidup. Kita perlu merawat pengetahuan tentang motif dan maknanya, menjaga keterampilan membatik, serta memastikan masyarakat yang menghidupkan tradisi tersebut ikut menikmati manfaat ekonominya,” katanya.
Untuk mendukung keberlanjutan itu, ia mendorong penguatan pendidikan dan pelatihan batik melalui sekolah, perguruan tinggi, museum, serta komunitas dengan melibatkan para pembatik. Ia juga mendorong dukungan berkelanjutan bagi usaha batik melalui akses pembiayaan, pendampingan desain dan pemasaran, serta pola pembelian yang memberikan harga wajar bagi perajin.
Teknologi dan keberlanjutan usaha
Di sisi lain, Lestari menilai teknologi perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan keselamatan kerja, efisiensi penggunaan air, dan pengolahan limbah. Menurut dia, pengembangan industri batik juga harus memperhatikan aspek lingkungan.
Ia menambahkan, keberhasilan pelestarian batik dapat dilihat dari bertambahnya pembatik muda, membaiknya pendapatan perajin, keberlanjutan usaha, serta terjaganya pengetahuan budaya di setiap sentra batik.
“Hari Batik seharusnya mengingatkan kita bahwa di balik setiap kain ada manusia, keterampilan, dan ingatan budaya. Kebanggaan kita akan bermakna ketika para perajinnya sejahtera dan generasi berikutnya memiliki kesempatan untuk melanjutkan warisan tersebut,” kata Lestari.



