berita

Mendagri Apresiasi Toleransi di Perayaan Imlek Singkawang 2026

Mendagri Soroti Singkawang sebagai Wajah Toleransi di Perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2026

Singkawang kembali menjadi sorotan nasional bukan semata karena meriah perayaannya, melainkan karena cara kota ini merawat keberagaman. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian yang hadir langsung dalam rangkaian Imlek dan Festival Cap Go Meh 2026 di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, memberi apresiasi atas kuatnya semangat kebersamaan yang terlihat di tengah masyarakat.

Di hadapan perayaan yang berlangsung semarak itu, Tito menilai Singkawang sebagai contoh daerah yang berhasil menjaga toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengaku senang sekaligus bangga melihat masyarakat kota tersebut yang hidup dalam keberagaman suku, budaya, dan latar belakang, namun tetap bisa saling menghormati.

Pandangan itu muncul bukan tanpa alasan. Perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang memang dikenal sebagai ruang pertemuan berbagai unsur budaya yang berjalan berdampingan. Dalam suasana itu, perbedaan tidak tampil sebagai sekat, melainkan sebagai kekuatan yang justru memperkaya identitas kota.

Singkawang dan Pesan Toleransi yang Terlihat Nyata

Tito menekankan bahwa apa yang ia saksikan di Singkawang sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar kehidupan berbangsa di Indonesia. Menurutnya, toleransi bukan hanya slogan, tetapi sesuatu yang benar-benar tampak dalam interaksi warga dan penyelenggaraan acara budaya di kota tersebut.

Dalam perayaan itu, keragaman etnis dan budaya tampil dalam bentuk yang saling melengkapi. Masyarakat setempat menunjukkan bahwa perbedaan bisa dirawat tanpa harus menimbulkan jarak. Justru dari keberagaman itulah muncul suasana perayaan yang hangat, terbuka, dan penuh penghormatan.

Apresiasi Mendagri ini mempertegas posisi Singkawang sebagai salah satu kota yang kerap dijadikan contoh dalam merawat harmoni sosial. Di tengah banyaknya tantangan menjaga kerukunan di berbagai daerah, Singkawang memperlihatkan bahwa toleransi bisa tumbuh kuat ketika masyarakat dan pemerintah daerah sama-sama memberi ruang bagi semua kelompok untuk hadir dan dihargai.

Karnaval Budaya Jadi Pusat Perhatian

Salah satu momen yang turut menyita perhatian dalam rangkaian acara adalah karnaval yang menampilkan kekayaan budaya lokal dan tradisi masyarakat Singkawang. Tito terlihat menikmati jalannya karnaval tersebut, yang menjadi representasi nyata dari identitas kota yang majemuk.

Karnaval itu tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga penegasan bahwa tradisi dapat dirayakan tanpa kehilangan semangat persatuan. Unsur budaya lokal yang ditampilkan memberi warna kuat pada perayaan, sekaligus menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi jembatan antarkelompok masyarakat.

Perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang selama ini memang dikenal luas sebagai agenda budaya yang memiliki daya tarik besar. Namun dalam kacamata Tito, nilai yang paling penting justru ada pada pesan sosialnya: masyarakat bisa berkumpul, merayakan, dan saling menghargai dalam satu ruang yang sama.

Hadiri Bersama Sejumlah Pejabat Negara

Acara tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat negara, termasuk Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, serta beberapa tokoh lainnya. Kehadiran para pejabat ini menunjukkan bahwa perayaan budaya di Singkawang memiliki perhatian luas, tidak hanya sebagai agenda lokal, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan nilai kebangsaan.

Di tengah kemeriahan itu, pesan yang mengemuka cukup jelas: Indonesia dibangun oleh keberagaman yang dijaga bersama. Singkawang, melalui perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2026, kembali memperlihatkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi ruang pertemuan yang menyatukan, bukan memisahkan.

Apa yang disaksikan Mendagri di Singkawang menjadi pengingat bahwa toleransi bukanlah konsep yang berhenti di pidato. Di kota ini, toleransi hadir dalam cara warga merayakan tradisi, berbagi ruang, dan menjaga harmoni di tengah perbedaan yang nyata.