Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pemerintah Indonesia berencana memproduksi bensin berbahan dasar batu bara. Dalam pernyataannya, ia menyebut langkah itu sejalan dengan upaya yang lebih dulu dilakukan China dalam mengembangkan teknologi konversi batu bara menjadi minyak, gas, dan bahan kimia untuk memperkuat ketahanan energi.
Rencana tersebut disampaikan Prabowo setelah pemerintah menjalankan program solar dengan campuran minyak kelapa sawit hingga 50 persen atau B50. Program itu, menurut Prabowo, ditujukan untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar.
“Profesor-profesor kita yang pintar, yang benar pintarnya ya, bukan yang profesor tadi itu. Dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit, dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit, dan kita juga nanti akan bikin juga bensin dari batu bara,” kata Prabowo seperti diberitakan detik pada Minggu (20/9).
Prabowo juga mengatakan implementasi program B50 membuat Indonesia berhenti mengimpor solar sejak 1 Juli 2026. Ia menyebut, “Kita mulai 1 Juli yang lalu kita tidak impor solar dari luar negeri. Solar kita sekarang sudah mandiri.”
Dalam pernyataan yang sama, Prabowo menilai program itu membantu Indonesia terlepas dari krisis energi. Ia juga menyebut situasi global saat ini dipenuhi konflik, sehingga pasokan solar langka di sejumlah negara.
“Hari-hari ini solar langka di dunia, kita punya uang pun mungkin tidak ada barangnya. Alhamdulillah, kita sudah bisa produksi solar kita sendiri. Dari mana? Dari kelapa sawit,” ucapnya.
Di sisi lain, China disebut telah lebih dulu mengembangkan pemanfaatan batu bara untuk menghasilkan berbagai produk energi. Negara itu mengembangkan teknologi konversi batu bara menjadi minyak, gas, dan bahan kimia untuk memperkuat ketahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik global pasca-perang Iran.
Mongolia Dalam, wilayah penghasil batu bara terbesar China, berencana membangun basis konversi batu bara menjadi minyak, gas, dan bahan kimia. Proyek itu ditujukan untuk meningkatkan pasokan energi domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
“Kami meningkatkan dan memperkuat kapasitas produksi domestik untuk proyek batu bara-menjadi-minyak, gas, dan kimia guna meningkatkan kemandirian domestik,” ujar Wakil Ketua Eksekutif Daerah Otonom Mongolia Dalam Huang Zhiqiang dalam konferensi pers, seperti dilansir Reuters, Senin (15/6).
Mongolia Dalam menjadi salah satu pusat pemanfaatan batu bara China karena memiliki cadangan melimpah. Pada 2024, produksi gas, cairan, dan bahan kimia dari batu bara hanya mampu menggantikan sekitar 6 persen dari total impor gas dan minyak mentah China.
Meski demikian, pengembangan industri itu terus berjalan. Pada Mei 2026, Kementerian Lingkungan Hidup China menyetujui proyek batu bara menjadi olefin senilai 22,1 miliar yuan atau sekitar Rp51,5 triliun di Ordos, Mongolia Dalam.
Proyek berkapasitas 800 ribu metrik ton per tahun itu akan menghasilkan olefin yang menjadi bahan dasar plastik dan produk kimia. Saat ini, sektor energi terbarukan diklaim telah menyumbang hingga 53 persen dari total kapasitas listrik terpasang di wilayah tersebut.
Namun, pengembangan batu bara menjadi produk minyak dan kimia juga menghadapi persoalan emisi karbon. Pemerintah Mongolia Dalam berupaya menyeimbangkan pemanfaatan batu bara dengan pengembangan energi bersih, termasuk melalui rencana penggunaan hidrogen hijau untuk menekan emisi.
Mongolia Dalam memproduksi sekitar 1,25-1,28 miliar ton batu bara per tahun atau lebih dari seperempat produksi nasional China. Sekitar dua pertiga produksi tersebut berasal dari Ordos yang kini dikembangkan sebagai salah satu pusat industri petrokimia berbasis batu bara.
Sumber: CNN Indonesia



