London bergerak lebih jauh dalam menekan jaringan kripto ilegal yang selama ini menjadi tulang punggung aliran dana gelap lintas negara. Kantor Luar Negeri, Persemakmuran dan Pembangunan Inggris atau UK Foreign, Commonwealth & Development Office menjatuhkan sanksi terhadap Xinbi, sebuah marketplace kripto yang disebut terlibat dalam perputaran dana ilegal senilai 19,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp337,80 triliun. Kebijakan ini mulai berlaku pada 26 Maret 2026 dan dirancang untuk memutus akses Xinbi dari ekosistem kripto global yang terhubung dengan Inggris.
Langkah tersebut bukan sekadar peringatan diplomatik. Inggris langsung mengaktifkan mekanisme sanksi yang membekukan aset terkait, melarang transaksi dengan pihak-pihak di Inggris, serta menutup jalur masuk dan keluar dana yang selama ini menopang jaringan penipuan. Bagi pasar kripto yang diatur di Inggris, Xinbi kini masuk kategori berisiko tinggi dan harus diperlakukan sebagai entitas yang diblokir.
Inggris menutup jalur uang yang menopang jaringan
Sanksi ini diberlakukan melalui rezim sanksi terpadu Inggris, yang memberi kewenangan kepada Office of Financial Sanctions Implementations (OFSI) untuk membekukan aset dan melarang transaksi yang memiliki kaitan dengan Inggris. Dampaknya menyasar langsung bank-bank Inggris, perusahaan kripto, kustodian, hingga penyedia layanan pembayaran yang mungkin pernah berhubungan dengan platform tersebut.
Dalam praktiknya, setiap transaksi kripto yang melibatkan entitas berbasis Inggris kini berpotensi dianggap melanggar aturan kepatuhan bila berkaitan dengan Xinbi. Konsekuensinya tidak kecil: penghapusan layanan, pemblokiran dompet, hingga pembatasan akses di sektor kripto yang diawasi ketat di negara itu bisa terjadi secara cepat. Inggris tampaknya ingin memastikan bahwa Xinbi tidak lagi punya ruang untuk bergerak di jalur keuangan formal maupun semi-formal.
Xinbi disebut jadi simpul penting aliran dana ilegal
Menurut penelusuran Chainalysis, perusahaan analisis blockchain yang memantau pergerakan aset digital, sanksi ini menargetkan apa yang mereka sebut sebagai “tulang punggung escrow” dari berbagai operasi penipuan berskala besar. Xinbi disebut bukan hanya sekadar marketplace, melainkan bagian inti dari infrastruktur keuangan yang membuat dana gelap bisa terus berputar.
Chainalysis mengaitkan Xinbi dengan sejumlah aktivitas ilegal, mulai dari pencucian uang, perdagangan over-the-counter atau OTC tanpa izin, penjualan basis data yang telah disusupi, hingga penyediaan peralatan satelit untuk kompleks penipuan. Nama Xinbi juga dikaitkan dengan dukungan terhadap operasi seperti 8Park, sebuah kompleks yang dijalankan oleh Legend Innovation Co di bawah direktur Eang Soklim. Dalam struktur seperti ini, Xinbi diduga berperan sebagai lapisan keuangan utama yang memungkinkan aktivitas ilegal tetap berjalan.
Tekanan baru terhadap ekosistem kripto yang rawan disalahgunakan
Kasus Xinbi memperlihatkan bagaimana marketplace kripto bisa berubah fungsi dari sarana transaksi menjadi jalur distribusi dana ilegal yang sulit dilacak. Di tengah berkembangnya penipuan berbasis aset digital, langkah Inggris ini menjadi sinyal bahwa otoritas keuangan mulai menutup celah yang selama ini dimanfaatkan jaringan kriminal untuk memindahkan uang lintas batas.
Dengan sanksi yang mulai berlaku pada Maret 2026, Xinbi kini menghadapi isolasi yang lebih luas dari sistem keuangan yang diatur. Bagi pelaku pasar, ini juga menjadi pengingat bahwa kepatuhan bukan lagi sekadar urusan administratif, melainkan faktor penentu apakah sebuah platform masih bisa bertahan di tengah pengawasan global yang semakin ketat.
Atribusi informasi: laporan ini disusun berdasarkan keterangan dari UK Foreign, Commonwealth & Development Office dan dokumentasi yang dirangkum oleh Chainalysis.
