berita

BNN Ungkap Lab Narkotika dan Tangkap WN Rusia di Bali

BNN Bongkar Laboratorium Gelap Mephedrone di Bali, Dua WN Rusia Ditangkap

Bali kembali menjadi sorotan setelah Badan Narkotika Nasional (BNN) RI mengungkap praktik clandestine laboratory yang diduga memproduksi narkotika sintetis jenis mephedrone di wilayah Gianyar. Dalam operasi gabungan yang melibatkan BNN RI, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Jenderal Imigrasi, serta Kepolisian Daerah Bali, dua warga negara Rusia ditangkap setelah penyelidikan intensif yang berlangsung sejak Januari 2026.

Pengungkapan ini menambah daftar panjang upaya aparat membongkar jaringan produksi narkotika yang bekerja secara tersembunyi. Yang membuat kasus ini mencolok bukan hanya lokasi laboratoriumnya, melainkan juga keterlibatan warga asing yang disebut memiliki peran berbeda dalam rantai produksi bahan terlarang tersebut.

Operasi Gabungan Bongkar Aktivitas Tersembunyi di Gianyar

Kepala BNN RI, Komjen Pol Suyudi Ario Seto, menegaskan bahwa penangkapan dua tersangka merupakan hasil kerja sama lintas lembaga yang dilakukan secara terukur dan berkesinambungan. Dari hasil operasi itu, aparat mengamankan dua orang tersangka, yakni TS (34), laki-laki, dan NT (29), perempuan. Keduanya ditangkap di vila yang berbeda di Kabupaten Gianyar, Bali.

Dalam penggerebekan tersebut, petugas juga menyita sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan proses produksi narkotika. Salah satu temuan utama adalah mephedrone seberat 7,3 kilogram. Selain itu, ditemukan pula bahan-bahan yang diduga digunakan untuk meracik narkotika sintetis tersebut.

Menurut BNN, laboratorium gelap itu beroperasi secara diam-diam dan memanfaatkan lokasi yang tidak mencolok untuk menyamarkan aktivitasnya. Pengungkapan ini menjadi penting karena barang haram tersebut masih dalam tahap produksi dan belum sempat diedarkan ke pasar gelap.

Peran Masing-Masing Tersangka Mulai Terkuak

BNN juga mengungkap latar belakang kedua tersangka. NT disebut sebagai peracik mephedrone yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Biologi di Rusia. Sementara TS mengaku memiliki peran dalam pengadaan bahan kimia yang diperlukan untuk proses produksi narkotika tersebut. TS juga disebut sebagai mantan tentara Rusia.

Informasi yang disampaikan aparat menunjukkan bahwa keduanya mulai memproduksi mephedrone sekitar dua bulan sebelum akhirnya ditangkap di Bali. Aktivitas itu dilakukan secara rutin setiap hari pada dini hari, sebuah pola yang diduga dipilih untuk menghindari perhatian lingkungan sekitar.

Modus yang digunakan juga terbilang rapi. Para pelaku disebut memesan bahan kimia secara daring dengan menggunakan nama palsu, sehingga jejak pemesanan sulit ditelusuri. Dari hasil penyelidikan, narkotika sintetis itu diduga akan disebarkan ke komunitas warga Rusia di Bali.

Keterkaitan dengan DPO dan Sinyal Jaringan yang Lebih Luas

Selain dua tersangka yang sudah diamankan, hasil penyelidikan juga menunjukkan adanya keterkaitan dengan seorang perempuan warga Rusia lain yang saat ini berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO). Temuan ini membuka kemungkinan bahwa kasus tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan jaringan yang lebih luas.

Meski begitu, aparat belum menjelaskan secara rinci sejauh mana hubungan para tersangka dengan DPO tersebut maupun apakah ada pihak lain yang terlibat dalam distribusi atau pasokan bahan baku. Namun, pengungkapan laboratorium gelap ini menjadi bukti bahwa pengawasan terhadap jalur masuk dan aktivitas mencurigakan di Bali terus diperketat.

BNN menilai operasi ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antarinstansi dalam menghadapi modus kejahatan narkotika yang semakin kompleks. Dalam kasus ini, kerja bersama antara BNN, Bea Cukai, Imigrasi, dan kepolisian menjadi kunci untuk menelusuri, mengamankan, dan membongkar praktik produksi narkotika yang disamarkan di balik aktivitas sehari-hari.

Dengan ditemukannya laboratorium tersebut sebelum sempat beredar luas, aparat kini memiliki titik masuk untuk menelusuri kemungkinan jaringan lain yang terhubung. Kasus ini sekaligus menegaskan bahwa Bali bukan hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga rentan menjadi sasaran penyamaran kejahatan narkotika yang memanfaatkan mobilitas dan celah pengawasan.