Garmin Run Indonesia 2025 tak sekadar menutup kalender lomba lari tahunan Garmin dengan euforia finis dan catatan waktu. Di ICE BSD, Tangerang, ajang ini justru meninggalkan pesan yang lebih panjang umur: olahraga bisa berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Di tengah tema “From Zero to Hero”, Garmin menunjukkan bahwa gelaran besar tidak harus identik dengan tumpukan sampah.
Di balik semarak ribuan pelari yang turun ke lintasan, ada kerja pengelolaan limbah yang disusun sejak tahap persiapan hingga hari perlombaan. Garmin Indonesia menggandeng Limbah.id sebagai Sustainability Partner untuk memastikan seluruh sampah acara ditangani secara terukur, bukan sekadar dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Pendekatannya jelas: zero to landfill, atau memastikan tidak ada limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Lebih dari 2,6 Ton Sampah Terkumpul
Selama periode Juni hingga September 2025, Limbah.id mencatat total 2.614,82 kilogram sampah berhasil dikumpulkan dari rangkaian kegiatan Garmin Run Indonesia 2025. Dari jumlah itu, plastik menjadi jenis limbah paling besar dengan 1.442 kilogram. Setelahnya menyusul kertas, residu, sampah organik, logam, kaca, hingga e-waste atau limbah elektronik.
Angka tersebut memberi gambaran bahwa sebuah event olahraga berskala besar membawa konsekuensi lingkungan yang nyata. Namun, yang dibedakan dalam ajang ini adalah cara menanganinya. Seluruh limbah tidak langsung dibuang, melainkan masuk ke fasilitas Material Recovery Facility (MRF) untuk dipilah, diproses, dan diarahkan ke jalur pengolahan yang sesuai.
Plastik, Organik, hingga E-Waste Diproses Ulang
Dalam sistem yang dijalankan, sampah organik diolah menjadi kompos alami. Sementara itu, material seperti plastik dan logam diteruskan ke fasilitas daur ulang agar dapat kembali menjadi bahan baku baru. Langkah ini penting karena jenis sampah tersebut justru memiliki potensi untuk dihidupkan kembali dalam rantai produksi, alih-alih menumpuk sebagai limbah.
Untuk sampah residu yang memang tidak dapat didaur ulang, Limbah.id memanfaatkan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF). Teknologi ini mengubah residu menjadi bahan bakar alternatif bagi industri energi. Dengan cara itu, volume sampah bisa ditekan, sekaligus membantu mengurangi ketergantungan pada batu bara.
Pengelolaan yang juga mencakup limbah elektronik menunjukkan bahwa aspek keberlanjutan di acara ini tidak dibatasi pada sampah yang paling mudah terlihat. E-waste, yang kerap luput dari perhatian dalam sebuah event publik, ikut masuk ke skema penanganan yang lebih bertanggung jawab.
Emisi Turun 29,1 Persen, Peserta Tembus 7.000 Orang
Dampak dari pengelolaan ini tidak berhenti di urusan sampah. Garmin menyebut sistem berkelanjutan yang diterapkan dalam Garmin Run Indonesia 2025 mampu menurunkan emisi karbon hingga 29,1%. Penghematan itu setara dengan 346,08 kgCO₂e atau sekitar 967 kWh listrik.
Jika dibuat lebih mudah dibayangkan, angka tersebut setara dengan sekitar empat kali perjalanan darat Jakarta-Surabaya. Perbandingan itu memperlihatkan bahwa pengelolaan limbah dalam event olahraga bukan sekadar pelengkap citra, melainkan bisa memberi dampak yang terukur.
Di sisi lain, ajang ini juga mencatat capaian dari sisi partisipasi. 7.000 orang ikut ambil bagian dalam Garmin Run Indonesia 2025, menjadikannya bukan hanya sebagai lomba lari dengan jumlah peserta besar, tetapi juga salah satu event olahraga yang menonjol karena pendekatan ramah lingkungannya di Indonesia. Informasi mengenai rangkaian pencapaian ini disampaikan Garmin Indonesia melalui penyelenggaraan resmi Garmin Run Indonesia 2025 dan kerja sama dengan Limbah.id.
