Jelang Lebaran 2026, sorotan terhadap harga pangan kembali menguat. Di tengah pengalaman berulang setiap tahun, lonjakan kebutuhan masyarakat pada masa Ramadan hingga Idulfitri dinilai masih menjadi titik rawan yang harus diantisipasi sejak dini. Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, mengingatkan pemerintah agar tidak lengah dalam menjaga pasokan sekaligus menstabilkan harga bahan pokok agar masyarakat tidak kembali terbebani saat permintaan naik.
Rajiv menilai, pola yang terjadi hampir selalu sama: begitu Ramadan masuk, kebutuhan terhadap beras, minyak goreng, gula, daging, dan telur ikut meningkat. Jika pasokan tidak disiapkan dengan baik, tekanan terhadap harga sulit dihindari. Karena itu, menurut dia, antisipasi tidak bisa dilakukan mendadak, melainkan harus dimulai jauh sebelum puncak permintaan tiba.
Permintaan Naik, Risiko Harga Ikut Bergerak
Rajiv menekankan bahwa stabilitas pangan bukan hanya soal ketersediaan barang di pasar, tetapi juga soal kemampuan pemerintah menjaga harga tetap terjangkau bagi masyarakat. Dalam situasi seperti menjelang Lebaran, kenaikan permintaan sering kali memicu gejolak harga pada komoditas yang menjadi kebutuhan harian banyak keluarga.
Sebagai anggota Komisi IV yang membidangi pertanian, perikanan, dan pangan, Rajiv mengatakan dirinya akan terus memantau kondisi ketersediaan pangan di daerah pemilihannya. Pemantauan itu, kata dia, penting agar persoalan di lapangan bisa lebih cepat terdeteksi dan tidak berkembang menjadi kelangkaan atau lonjakan harga yang lebih luas.
Ia juga mendorong agar produksi pertanian lokal menjadi penopang utama kebutuhan masyarakat ketika konsumsi meningkat. Menurutnya, ketergantungan yang terlalu besar pada pasokan dari luar daerah justru membuat daerah lebih rentan saat terjadi tekanan permintaan.
Produksi Lokal Dinilai Jadi Penahan Gejolak
Rajiv menegaskan bahwa penguatan produksi lokal perlu menjadi perhatian serius, khususnya di Jawa Barat yang memiliki potensi pertanian cukup besar. Dukungan terhadap petani, menurut dia, akan berdampak langsung pada kemampuan daerah dalam menjaga pasokan pangan tetap stabil saat momen-momen penting seperti Ramadan dan Idulfitri.
Ia menilai bantuan pertanian juga harus diarahkan untuk mendorong kemajuan sektor pertanian di wilayah Jawa Barat agar bisa berkembang lebih kuat ke depannya. Dengan dukungan yang tepat, produksi lokal tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah.
Dalam pandangannya, keberhasilan menjaga stabilitas pangan tidak bisa hanya bertumpu pada operasi pasar atau langkah sesaat ketika harga sudah terlanjur naik. Yang lebih penting adalah memperkuat fondasi produksi sejak awal, supaya masyarakat tidak terus-menerus menghadapi tekanan harga setiap kali memasuki musim konsumsi tinggi.
Langkah Sosial dan Gerakan Pangan Murah
Selain menyampaikan peringatan soal stabilitas pangan, Rajiv juga mengambil langkah langsung di lapangan. Ia telah mendistribusikan 30.000 paket sembako kepada masyarakat sebagai bagian dari program kemanusiaan menjelang bulan Ramadan. Bantuan ini diberikan untuk meringankan beban warga di tengah kebutuhan rumah tangga yang biasanya meningkat pada periode tersebut.
Rajiv juga menggelar Gerakan Pangan Murah di Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kegiatan itu disiapkan untuk membantu masyarakat memperoleh bahan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau selama menjalani ibadah puasa.
Di tengah berbagai upaya tersebut, Rajiv kembali menegaskan bahwa perhatian terhadap pangan tidak boleh berhenti pada seremoni atau bantuan sesaat. Menurut dia, yang dibutuhkan adalah kerja bersama untuk memastikan pasokan tetap aman, harga terkendali, dan petani lokal mendapat dukungan yang memadai agar masyarakat tidak selalu menjadi pihak yang paling terdampak setiap kali tekanan pangan muncul.


