LIVEMinggu, 11 Oktober 2026
Ayo Dukung Produk UMKM IndonesiaKLIK DI SINI
BREAKING NEWS
Beranda›Ekonomi›Bogor Jadi Lokasi Pembangunan PSEL Pertama di Indonesia untuk Atasi Sampah
Ekonomi

Bogor Jadi Lokasi Pembangunan PSEL Pertama di Indonesia untuk Atasi Sampah

Bogor Jadi Lokasi Pembangunan PSEL Pertama di Indonesia untuk Atasi Sampah

Pemerintah tengah menyiapkan pembangunan proyek pengolahan sampah di Bogor Raya dengan menggabungkan dua teknologi dalam satu kawasan di TPAS Galuga, Kabupaten Bogor. Skema itu memadukan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk sampah baru dan pirolisis untuk timbunan sampah lama.

Dalam peresmian pembangunan PSEL Bogor Raya di Galuga, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan model tersebut menjadi terobosan baru dalam penanganan sampah di Indonesia. Ia menyebut pendekatan itu tidak hanya menuntaskan sampah yang datang setiap hari, tetapi juga sampah lama yang sudah bertahun-tahun menumpuk.

“Ini yang pertama di Indonesia. Sampah yang datang setiap hari kita selesaikan melalui PSEL menjadi energi listrik. Tetapi kita tidak berhenti di sana. Sampah lama yang sudah bertahun-tahun menumpuk juga harus kita tuntaskan dengan teknologi pirolisis. Jadi yang baru selesai, yang lama juga kita bereskan,” ujar Zulhas, Kamis (17/9).

Menurutnya, pembangunan fasilitas pengolahan sampah tidak cukup hanya menghentikan pertambahan timbunan baru. Pemerintah juga harus menyelesaikan tumpukan sampah lama yang disebutnya sebagai “warisan” dan berpotensi membahayakan masyarakat sekitar.

Urgensi penanganan itu, kata dia, terlihat dari volume sampah harian di wilayah Bogor. Kabupaten Bogor menghasilkan sekitar 3.000 ton sampah setiap hari, sementara Kota Bogor berada di kisaran 700-1.000 ton per hari.

PSEL Bogor Raya ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.500 ton sampah baru per hari. Sampah itu akan dikonversi menjadi energi listrik berkapasitas sekitar 20-30 MW, dengan PT PLN (Persero) sebagai offtaker.

Di sisi lain, teknologi pirolisis diarahkan untuk mengolah 700 sampai 1.000 ton timbunan sampah lama per hari dari TPAS Galuga. Dengan begitu, beban sampah yang telah terakumulasi di kawasan tersebut diharapkan bisa dikurangi secara bertahap.

Zulhas menyebut TPAS Galuga berada dalam kondisi darurat, sehingga daerah dengan dampak paling besar bagi masyarakat menjadi prioritas. Ia juga menegaskan persoalan sebesar itu tidak bisa diselesaikan Bogor sendiri.

“TPAS Galuga termasuk yang kondisinya darurat. Karena itu, yang kita dahulukan adalah daerah-daerah yang darurat dan memberikan dampak buruk bagi masyarakat. ersoalan sebesar ini tidak mungkin diselesaikan Bogor sendiri. Pemerintah pusat harus turun dan kita kerjakan bersama-sama,” ujar Zulhas.

Dengan skema tersebut, kawasan Galuga diarahkan menjadi contoh penanganan sampah dari hulu hingga hilir. Sampah baru ditargetkan tidak terus menumpuk, sementara timbunan sampah lama dituntaskan secara bertahap.

Pemerintah juga menyebut percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah dilakukan dengan membongkar hambatan regulasi dan ego sektoral. Zulhas mengatakan proses yang panjang dan kompleks selama sekitar 11 tahun membuat pembangunan fasilitas pengolahan sampah tidak berkembang sesuai kebutuhan.

Ia menjelaskan pemerintah kemudian melakukan konsolidasi lintas kementerian dan lembaga, disusul penyederhanaan regulasi. “Dulu penanganan sampah rumit karena masing-masing berjalan sendiri-sendiri. Atas perintah Presiden, kemudian dilakukan penyederhanaan prosedur dan aturan. Kita ingin masalah sampah diselesaikan, bukan dipersulit oleh aturan,” kata Zulhas.

Pembangunan PSEL Bogor Raya merupakan salah satu dari tiga proyek PSEL gelombang pertama yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), bersama PSEL Kota Bekasi dan PSEL Denpasar Raya.

Berbeda dari dua proyek lainnya, Bogor Raya mengintegrasikan penanganan sampah baru dan penyelesaian timbunan sampah lama dalam satu kawasan. Zulhas mengatakan model itu diharapkan dapat membuktikan bahwa persoalan sampah bisa diselesaikan secara tuntas.

“Kita ingin membuktikan bahwa persoalan sampah bisa diselesaikan secara tuntas. Sampah baru menjadi energi listrik, sampah lama kita bereskan menjadi bahan bakar untuk diesel. Kalau model ini berhasil, Bogor bisa menjadi contoh bagaimana Indonesia menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh,” pungkas Zulhas.

Sumber: CNN Indonesia

Penulis

Redaksi_Ekonomi

Redaksi Ekonomi KabarDPR bertugas menyajikan informasi dan pemberitaan seputar perkembangan ekonomi nasional dan global, kebijakan fiskal dan moneter, dunia usaha, investasi, perdagangan, perbankan, pasar modal, industri, UMKM, ketenagakerjaan, energi, serta ekonomi digital.