berita

Pramono Membangun 2 PLTS untuk Mengatasi Masalah Sampah di Jakarta

Pramono Dorong Dua PLTSa Baru untuk Redam Krisis Sampah Jakarta

Jakarta kembali menaruh harapan besar pada teknologi pengolahan sampah menjadi energi. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyiapkan pembangunan dua Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Bantargebang dan Tunjungan sebagai bagian dari upaya menekan persoalan sampah yang terus membebani ibu kota.

Rencana ini bukan sekadar menambah fasilitas baru, tetapi juga menjadi sinyal bahwa Jakarta ingin mengubah cara menangani sampah dari sekadar mengangkut dan menimbun menjadi mengolahnya secara lebih terukur. Dua lokasi tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas besar, yakni berkisar 3.000 hingga 4.000 ton per hari.

Dua Titik Strategis untuk Menyerap Timbunan Sampah Harian

Pembangunan PLTSa di Bantargebang dan Tunjungan disiapkan untuk menampung produksi sampah harian warga Jakarta yang volumenya terus menekan sistem pengelolaan kota. Dengan kapasitas ribuan ton per hari, fasilitas ini diharapkan mampu menyerap sisa sampah dari rumah tangga maupun aktivitas industri secara lebih efisien.

Langkah tersebut dinilai penting karena Jakarta membutuhkan solusi yang tidak hanya mengurangi tumpukan sampah di hulu, tetapi juga memberi kepastian pada proses pengolahan di hilir. Dalam skema yang disiapkan, PLTSa baru ini menjadi tulang punggung tambahan agar beban pengelolaan tidak hanya bertumpu pada fasilitas yang sudah ada.

Jakarta Kejar Kapasitas Pengolahan hingga 10.000 Ton per Hari

Selain dua PLTSa utama itu, pemerintah provinsi juga tengah menyiapkan rencana penambahan fasilitas serupa untuk memperbesar kapasitas pengolahan sampah Jakarta hingga 10.000 ton per hari. Target ini menunjukkan bahwa persoalan sampah di ibu kota dipandang perlu ditangani dengan pendekatan yang lebih besar dan sistematis.

Dengan kapasitas sebesar itu, Jakarta diharapkan memiliki ruang gerak yang lebih longgar dalam mengolah sampah yang setiap hari terus bertambah. Pemerintah ingin memastikan bahwa beban sampah tidak lagi menumpuk di satu titik, melainkan tersebar dalam sistem pengolahan yang lebih efisien dan terukur.

Operasional RDF Rorotan dan Pemulihan Pengangkutan Sampah

Di tengah rencana besar tersebut, Jakarta juga mencatat perkembangan di fasilitas pengolahan lain. Operasional RDF Rorotan telah dimulai dan saat ini rata-rata mampu mengolah sekitar 700 ton sampah per hari. Kehadiran fasilitas ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pengolahan sampah di ibu kota.

Adapun sempat terjadi penumpukan sampah di beberapa titik setelah longsornya zona 4A di TPST Bantargebang. Namun, kondisi pengangkutan kini kembali normal setelah akses pembuangan sampah dibuka kembali. Pemulihan ini menjadi penting karena kelancaran distribusi sampah sangat menentukan stabilitas pengelolaan harian Jakarta.

Langkah membangun PLTSa baru, mengoptimalkan RDF Rorotan, dan memulihkan jalur pembuangan menunjukkan bahwa Pemprov DKI sedang mengandalkan kombinasi infrastruktur dan penguatan operasional untuk menghadapi masalah sampah yang selama ini kerap muncul berulang. Informasi mengenai rencana tersebut disampaikan dalam laporan yang dikutip dari sumber pemberitaan terkait.