Friday, April 17, 2026
No menu items!
HomeLainnyaWahdi Azmi Dorong Konservasi Berbasis Kepentingan Bersama

Wahdi Azmi Dorong Konservasi Berbasis Kepentingan Bersama

Ketika topik konservasi menjadi perbincangan, seringkali fokus utamanya hanya pada pelestarian hutan dan perlindungan satwa liar. Banyak diskusi menyoroti persoalan seperti menyempitnya habitat, penurunan jumlah satwa, dan meningkatnya konflik antara manusia dan hewan. Namun, dalam kerangka ini, ada aspek penting yang kerap terlupakan: posisi manusia sebagai bagian dari ekosistem itu sendiri.

Wahdi Azmi, seorang dokter hewan yang lama menangani konflik manusia dan gajah di Sumatera, menyoroti keterbatasan pandangan tersebut. Menurutnya, ketika perhatian hanya tertuju pada penyelamatan fauna dan flora, ada potensi pengabaian terhadap keberadaan masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam. Ia menegaskan, “Upaya konservasi akan sulit berhasil apabila masyarakat sekitar tidak merasakan manfaatnya.” Bagi Wahdi, mengabaikan kebutuhan sosial dan ekonomi penduduk sama saja dengan membiarkan konservasi berjalan di tempat.

Pengalaman Wahdi membuktikan bahwa inti masalah dalam konflik manusia dengan satwa biasanya lebih kompleks dari sekadar perilaku hewan. Kehilangan habitat akibat alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau permukiman, tanpa perencanaan sosial ekonomi yang baik, memaksa manusia dan satwa berbagi ruang secara tidak ideal. Situasi ini sering memicu perselisihan yang terus berulang.

Penerapan konservasi secara tradisional umumnya menitikberatkan proteksi kawasan: membuat zona larangan, membatasi aktivitas masyarakat, serta memperketat aturan. Memang, metode ini terlihat masuk akal di atas kertas. Namun kenyataannya, banyak penduduk sekitar justru merasa terpinggirkan akibat pembatasan akses terhadap sumber daya dan peluang ekonomi. Akibatnya, konservasi tidak dianggap sebagai solusi bersama, melainkan beban tambahan.

Wahdi menyatakan pentingnya pendekatan integratif—bukan sekadar memasukkan nama masyarakat dalam daftar peserta program, tapi membangun hubungan nyata antara pelestarian lingkungan, keberlanjutan ekonomi, dan pendidikan publik. Menurutnya, ketika tujuan ekologis, ekonomi lokal, serta edukasi berjalan seiring, upaya konservasi akan menjadi lebih tahan lama dan berakar pada motivasi internal masyarakat, bukan sekadar pengawasan pemerintah.

Contoh penerapan prinsip tersebut terlihat di kawasan Mega Mendung, Bogor. Di sini, tekanan terhadap lingkungan meningkat seiring pertumbuhan kebutuhan penduduk dan pembangunan kawasan Jabodetabek. Kawasan Arista Montana dan Yayasan Paseban mencoba menawarkan jalan tengah dengan tidak memisahkan antara kegiatan manusia dan kelestarian alam. Pelestarian diintegrasikan secara nyata ke dalam aktivitas ekonomi dan kehidupan lokal.

Salah satu inisiatif nyata di Mega Mendung adalah pertanian organik berbasis komunitas, di mana petani lokal tak sekadar menjadi pekerja, tetapi juga memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru. Dalam sistem ini, kelestarian lingkungan menjadi bagian dari kebutuhan ekonomi: produktivitas pertanian andalannya sangat bergantung pada kesehatan ekosistem. Jadi, minat untuk menjaga tanah, air, dan hutan tumbuh dari kesadaran akan manfaat ekonomi langsung.

Selain pelatihan teknik bertani, Yayasan Paseban juga menjalankan program edukasi pengelolaan lingkungan dan pelestarian alam untuk masyarakat dan generasi muda. Hal ini memperkuat kapasitas lokal dari sisi pengetahuan maupun praktik, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi sekedar penerima program, tetapi juga aktor utama proses konservasi. Mereka memahami cara memanfaatkan sumber daya alam secara lestari dan memaksimalkan peluang ekonomi yang muncul.

Dua kisah—dari Sumatera dan Bogor—menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi tak bisa hanya diukur dari luas hutan yang terlindungi atau jumlah satwa yang dilestarikan. Hubungan antara manusia dan lingkungan sekitarnya lebih menentukan keberlanjutan pelestarian itu sendiri. Konflik dimanapun, pada dasarnya akan berkurang jika manusia tidak hanya diberi aturan, melainkan juga peran dan insentif nyata.

Seringkali, kegagalan konservasi di Indonesia disebabkan oleh kurangnya pelibatan serta minimnya kapasitas masyarakat lokal. Akibatnya, banyak program tak berjalan karena masyarakat tidak punya daya maupun pengetahuan yang cukup. Namun bila masyarakat merasa memiliki, terlatih mengelola sumber daya, dan mendapatkan manfaat ekonomi, maka konservasi menjadi kebutuhan yang tumbuh dari dalam komunitas.

Perpaduan antara ide-ide Wahdi Azmi dan praktik yang terjadi di Mega Mendung menawarkan pelajaran penting di tengah tantangan pembangunan saat ini. Indonesia membutuhkan pendekatan konservasi yang benar-benar mampu menjembatani kebutuhan ekologi serta ekonomi, bukan cuma memperluas kawasan perlindungan. Konservasi harus dipahami sebagai sistem terintegrasi yang menghubungkan pelestarian alam, kesejahteraan masyarakat, pengetahuan, dan praktik di lapangan.

Tanpa model yang menyatu seperti ini, pelestarian akan selalu terjebak dalam posisi bertahan terhadap berbagai tekanan. Namun, ketika konservasi dijadikan fondasi ekonomi dan kehidupan bersama, pelestarian lingkungan bisa menjadi kekuatan utama dalam pembangunan berkelanjutan. Pada akhirnya, keberhasilan konservasi sangat bergantung pada alasan dan motivasi manusia untuk ikut serta menjaganya.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi

BERITA TERKAIT

Paling Populer