Sebuah kejadian luar biasa terjadi di dunia Bitcoin pada tanggal 11 November 2025. Dilaporkan bahwa seorang pengguna Bitcoin membayar biaya transaksi sebesar lebih dari USD 105.197 atau sekitar Rp 1,76 miliar (dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah sebesar 16.746) hanya untuk mengirimkan Bitcoin senilai USD 10 atau sekitar Rp 167.496. Berita ini pertama kali diperhatikan oleh seorang pengguna platform X (Twitter) dan membuat terkejut komunitas aset digital. Data dari Mempool menunjukkan bahwa pengguna tersebut mengirimkan jumlah kecil Bitcoin, tetapi membayar biaya transaksi yang jauh melebihi nilai Bitcoin yang dikirim.
CEO dan Co-Founder Luxor Mining Pool, Nick Hansen, menyatakan bahwa transaksi ini terlihat tidak standar. Dia mengungkapkan pendapatnya kepada Decrypt bahwa cara transaksi Bitcoin tersebut dilakukan tidak sesuai standar yang berlaku. Insiden langka ini menimbulkan diskusi kembali mengenai biaya transaksi di network Bitcoin yang seharusnya efisien dengan biaya yang rendah. Namun, dalam kasus ini, pengguna sepertinya melakukan kesalahan teknis dan menerapkan konfigurasi biaya yang tidak tepat pada dompet kripto mereka.
Dalam menjalankan transaksi di jaringan Bitcoin, pengguna perlu membayar biaya kepada para penambang sebagai imbalan atas verifikasi yang dilakukan oleh mereka. Sebagai penghargaan, penambang akan mendapatkan token baru karena kontribusi mereka dalam menjaga keamanan jaringan. Ini menunjukkan bahwa biaya transaksi Bitcoin sebenarnya relatif murah dan efisien.

