otomotif

Tips Rifat Sungkar Agar BBM Lebih Awet Tanpa Ubah Mobil

Tips Rifat Sungkar Agar BBM Lebih Awet Tanpa Ubah Mobil

Di tengah harga bahan bakar yang kerap naik-turun, cara menghemat BBM bukan lagi sekadar urusan pengendara yang ingin irit, melainkan kebutuhan sehari-hari. Menariknya, menurut pembalap Rifat Sungkar, efisiensi bahan bakar tidak selalu bergantung pada mobil baru, modifikasi teknis, atau biaya tambahan yang besar. Justru, kuncinya sering ada pada dua hal sederhana: kondisi mesin dan kebiasaan orang di balik kemudi.

Pesan ini terasa relevan karena banyak pengendara masih fokus pada spesifikasi kendaraan, padahal cara mengemudi dan perawatan dasar sering kali lebih menentukan. Mesin yang sehat, cara berkendara yang halus, serta kebiasaan yang lebih tenang bisa memberi dampak langsung pada konsumsi BBM. Dengan kata lain, mobil yang sama bisa punya tingkat keiritan berbeda hanya karena dipakai dengan cara yang berbeda.

Mesin Sehat, BBM Lebih Terkendali

Rifat menekankan bahwa performa mesin yang prima akan membantu konsumsi bahan bakar tetap efisien. Karena itu, perawatan rutin menjadi fondasi utama jika pengemudi ingin BBM lebih awet tanpa perlu mengutak-atik kendaraan. Penggunaan pelumas yang sesuai, misalnya, bukan cuma soal menjaga komponen tetap terlindungi, tetapi juga membantu mesin bekerja lebih ringan.

Selain pelumas, kebersihan injektor juga perlu diperhatikan. Injektor yang kotor dapat mengganggu suplai bahan bakar sehingga pembakaran tidak berlangsung optimal. Hal serupa berlaku pada fuel filter yang kondisinya harus selalu dicek agar aliran BBM tetap lancar. Jika bagian ini bermasalah, mesin bisa bekerja lebih berat dari seharusnya dan konsumsi bahan bakar ikut terdorong naik.

Komponen lain yang tak kalah penting adalah busi dan sistem pengapian. Saat keduanya berfungsi dengan baik, pembakaran berlangsung lebih sempurna. Sebaliknya, jika ada gangguan pada sistem ini, mesin bisa kehilangan efisiensi dan membuat penggunaan BBM terasa lebih boros. Karena itu, merawat bagian-bagian dasar mesin menjadi langkah yang jauh lebih masuk akal ketimbang menunggu konsumsi BBM memburuk terlebih dahulu.

Cara Mengemudi Sangat Menentukan

Menurut Rifat, kebiasaan berkendara agresif sering menjadi penyebab utama BBM cepat habis. Akselerasi mendadak, kebiasaan menempel terlalu dekat dengan kendaraan di depan, hingga pola berkendara stop-and-go yang berlebihan bisa membuat konsumsi bahan bakar meningkat. Pada situasi seperti ini, mesin dipaksa bekerja lebih keras untuk merespons perubahan kecepatan yang tidak stabil.

Karena itu, menjaga jarak aman saat berkendara bukan hanya soal keselamatan, tetapi juga efisiensi. Dengan ruang yang cukup, pengemudi bisa mengatur laju kendaraan secara lebih halus dan tidak perlu sering mengerem atau menambah gas secara tiba-tiba. Akselerasi yang lembut juga membantu mesin bekerja lebih efisien dibanding dorongan gas yang berulang dan kasar.

Bagi pengguna mobil manual, perpindahan gigi pada waktu yang tepat juga punya peran penting. Jika gigi terlalu lama dipertahankan atau perpindahan dilakukan tidak pas, mesin bisa dipaksa bekerja di putaran yang tidak ideal. Akibatnya, bahan bakar yang terpakai menjadi lebih banyak dari yang seharusnya. Di titik ini, efisiensi bukan hanya soal teknologi kendaraan, tetapi juga soal ketepatan pengemudi membaca karakter mobilnya.

Mindset Berkendara Perlu Diubah

Selain urusan teknis, Rifat juga menyoroti pentingnya mengubah pola pikir saat berkendara. Menurutnya, pengemudi yang lebih sabar dan fokus pada efisiensi biasanya lebih mudah menjaga konsumsi BBM tetap hemat. Ini bukan soal pelan-pelan semata, melainkan soal mengemudi dengan ritme yang stabil, tenang, dan tidak terburu-buru.

Perubahan sikap ini sering kali terasa sederhana, tetapi dampaknya bisa nyata. Pengemudi yang terbiasa mengantisipasi kondisi jalan, tidak panik saat lalu lintas melambat, dan tidak terus-menerus melakukan manuver mendadak akan lebih mudah menjaga efisiensi bahan bakar. Pada saat yang sama, kebiasaan ini juga membantu kendaraan bekerja lebih ringan dan berpotensi membuatnya lebih awet dalam jangka panjang.

Jika dirangkum, tips dari Rifat Sungkar menunjukkan bahwa BBM lebih irit tidak harus dicapai lewat ubahan besar pada mobil. Perawatan mesin yang disiplin, gaya berkendara yang halus, dan kebiasaan mengemudi yang lebih sabar sudah cukup memberi pengaruh besar. Di tengah tekanan biaya harian, cara ini menjadi solusi yang praktis karena mengandalkan kebiasaan, bukan pengeluaran tambahan.

Atribusi sumber: informasi ini merujuk pada penjelasan Rifat Sungkar mengenai efisiensi bahan bakar dan kebiasaan berkendara yang lebih hemat.