Di tengah percepatan elektrifikasi transportasi publik di Eropa, satu nama kian sering muncul di barisan depan: Solaris Bus & Coach. Produsen asal Eropa ini tidak sekadar ikut meramaikan pasar bus listrik, tetapi berhasil menempatkan diri sebagai salah satu pemain paling berpengaruh di sektor yang pertumbuhannya sangat cepat. Pada 2019, Solaris mencatat lonjakan besar lewat sejumlah kontrak dari kota-kota besar seperti Berlin, Warsawa, dan Milan, yang membuat posisinya makin sulit disaingi.
Pesanan besar itu menjadi penanda penting bahwa bus listrik bukan lagi proyek percobaan, melainkan kebutuhan nyata dalam pembaruan armada transportasi umum. Solaris menerima sekitar 470 unit bus listrik dari tiga kota tersebut pada awal 2019, ditambah kontrak sekitar 90 unit lain untuk beberapa kota di Eropa. Dari capaian itu, perusahaan mengklaim menguasai sekitar 25% tender bus listrik di Eropa pada tahun yang sama. Di pasar yang mulai dipenuhi banyak produsen, angka tersebut menunjukkan betapa kuatnya daya saing Solaris.
Pesanan besar dari kota-kota utama Eropa
Keberhasilan Solaris tidak datang dari satu proyek tunggal, melainkan dari rangkaian kontrak yang menyasar kota dengan kebutuhan transportasi tinggi. Berlin, Warsawa, dan Milan menjadi contoh bagaimana pemerintah kota di Eropa mulai serius mengganti armada lama dengan kendaraan yang lebih bersih. Dalam konteks itu, Solaris tampil sebagai pemasok yang mampu memenuhi skala kebutuhan sekaligus tuntutan teknologi yang semakin tinggi.
Pesanan dalam jumlah besar juga memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap transportasi umum. Bus listrik kini tidak lagi dipandang sebagai pilihan mahal dan terbatas, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi emisi dan memperbarui layanan publik. Bagi Solaris, momentum ini memberi ruang untuk memperluas pengaruh di pasar yang sedang tumbuh cepat.
Pasar bus listrik Eropa melonjak tajam
Data Busworld menunjukkan bahwa armada bus listrik di Eropa telah mencapai sekitar 3.500 unit. Angka itu jauh melesat dibandingkan lima tahun sebelumnya yang masih berada di kisaran 240 unit. Kenaikan ini tidak lepas dari dorongan kebijakan publik, termasuk target ambisius yang ditetapkan Parlemen Eropa untuk mendorong kendaraan rendah emisi di sektor transportasi.
Regulasi tersebut menciptakan pasar yang lebih pasti bagi produsen bus listrik. Pemerintah kota dan operator transportasi kini memiliki tekanan sekaligus insentif untuk beralih ke armada elektrik. Dalam situasi seperti ini, produsen yang sudah lebih dulu berinvestasi pada teknologi listrik memiliki keuntungan kompetitif. Solaris termasuk yang paling awal membaca arah pasar tersebut.
Inovasi baterai jadi kunci daya saing Solaris
Salah satu kekuatan Solaris terletak pada pengembangan teknologi baterai. Perusahaan ini memperkenalkan Solaris High Energy Plus, baterai generasi baru yang diklaim memiliki kapasitas hampir dua kali lipat dibanding pendahulunya. Peningkatan ini penting karena jarak tempuh dan efisiensi operasional masih menjadi dua faktor utama dalam adopsi bus listrik.
Solaris sendiri bukan pemain baru di industri kendaraan niaga. Perusahaan ini awalnya dikenal lewat bus berbahan bakar diesel dan gas sebelum mulai serius menggarap kendaraan listrik sejak 2011. Dari proses itu, Solaris membangun pengalaman teknis yang kemudian menjadi modal penting untuk bersaing di pasar bus listrik. Salah satu model yang disebut berhasil menunjukkan kemampuan tersebut adalah Solaris Urbino 8.9 LE Electric, yang dilaporkan mampu menempuh hingga 3.000 km tanpa gangguan.
Dengan pasar yang terus berkembang, dukungan regulasi yang masih kuat, dan kebutuhan kota-kota besar untuk memperbarui armada, Solaris berada di posisi yang menguntungkan. Namun, keunggulan itu juga membawa tantangan: mempertahankan performa teknologi sekaligus menjaga kepercayaan pasar di tengah kompetisi yang semakin padat. Informasi ini merujuk pada data Busworld serta catatan kontrak Solaris di sejumlah kota Eropa pada 2019.
