Jakarta — Perdebatan soal siapa yang bisa meneruskan pengaruh politik Joko Widodo kembali mengemuka. Di tengah perbincangan tentang figur yang dianggap mampu menggantikan peran Jokowi sebagai magnet relawan, Ketua Umum Brigade Rakyat Nusantara (BRN) Relly Regean menegaskan satu hal: hingga kini belum ada sosok yang benar-benar bisa menyamai posisi Presiden ke-7 RI itu.
Pernyataan itu bukan sekadar soal siapa yang paling populer di panggung politik. Bagi Relly, ukuran “pengganti” Jokowi tidak hanya terletak pada jabatan, melainkan juga pada kemampuan memengaruhi dukungan, menjaga komunikasi dengan publik, dan tetap tenang saat diserang kritik. Dari sudut pandangnya, justru di situlah letak sulitnya mencari figur setara.
Relly: Jokowi Sulit Digantikan karena Gaya Komunikasinya
Relly menilai daya tarik Jokowi lahir dari cara menyampaikan pendapat yang dianggap sederhana, langsung, dan mudah diterima banyak kalangan. Ia menyebut cara Jokowi merespons isu-isu yang berkembang ikut membentuk kesan kuat di mata para relawan. Dalam pandangannya, kemampuan itu tidak mudah ditiru begitu saja oleh tokoh lain.
Relly juga menyoroti sikap Jokowi yang dinilainya tetap tenang ketika berhadapan dengan kritik. Menurut dia, justru ketenangan itulah yang membuat loyalitas relawan tidak cepat goyah. Di tengah serangan opini dan penilaian negatif, Jokowi dinilai tidak kehilangan gaya rendah hati yang selama ini melekat pada dirinya.
Apresiasi serupa juga disampaikan Relly terhadap karakter Jokowi yang dianggap tidak berubah meski kerap menjadi sasaran penilaian miring. Ia melihat keteguhan sikap itu sebagai salah satu alasan mengapa basis pendukung Jokowi masih memiliki ikatan emosional yang kuat.
BRN Dibentuk untuk Menjawab Situasi Baru
Relly mengatakan, kondisi politik dan sosial yang berkembang saat ini mendorong dirinya bersama para relawan membentuk organisasi masyarakat baru bernama Brigade Rakyat Nusantara atau BRN. Langkah ini, menurut dia, merupakan bentuk penyesuaian agar gerakan relawan tetap relevan dengan situasi yang ada.
Dalam penjelasannya, BRN bukan sekadar wadah baru, melainkan ruang untuk merespons dinamika yang berubah. Relly tidak merinci lebih jauh agenda organisasi itu, namun penekanannya jelas: relawan perlu bergerak mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan arah dukungan yang selama ini sudah terbentuk.
Pandangan itu sekaligus menunjukkan bahwa isu “pengganti Jokowi” tidak selalu dibaca sebagai soal suksesi tokoh semata. Di lapangan, pertanyaannya justru bergeser menjadi bagaimana jaringan relawan menata ulang langkah mereka ketika figur utama sudah tidak lagi berada di puncak kekuasaan.
Polemik dengan JK dan Penegasan dari Jokowi
Di tengah pembicaraan mengenai posisi Jokowi dan relawan, Relly juga menyinggung polemik yang sempat dikaitkan dengan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla. Ia menyampaikan bahwa Jokowi sudah menegaskan tidak ada persoalan dengan JK.
Menurut Relly, Jokowi memandang Jusuf Kalla sebagai sosok senior dan menyebut hubungan keduanya tidak memiliki masalah. Pernyataan ini, bagi Relly, penting untuk meredam tafsir liar yang kerap muncul ketika dua nama besar dalam politik nasional disebut dalam satu narasi yang sama.
Dengan penegasan tersebut, Relly mencoba menempatkan kembali persoalan pada konteks yang lebih sederhana: bahwa tidak semua perbedaan pandangan harus dibaca sebagai konflik. Dalam pandangannya, Jokowi tetap menjaga sikap hormat kepada tokoh senior, termasuk JK, dan itu menjadi bagian dari karakter politik yang selama ini membuatnya tetap menonjol di mata relawan.
