Sentimen Harga Bitcoin: Naik atau Turun?
Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah pasar kripto terseret sentimen risk-off yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di tengah ketidakpastian itu, harga BTC sempat bertahan, tetapi belum cukup kuat untuk kembali menembus area yang sebelumnya sempat disentuh pekan lalu. Pergerakan ini memperlihatkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap kabar dari luar ekosistem kripto, terutama yang berkaitan dengan pasokan minyak, konflik regional, dan arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
Pada pukul 23:15 ET, Bitcoin tercatat diperdagangkan di level USD 66.966 atau sekitar Rp 1,13 miliar. Angka ini memang menunjukkan stabilisasi jangka pendek, namun tetap lebih rendah dibandingkan posisi pekan lalu yang sempat berada di sekitar USD 71.000. Jika ditarik lebih jauh, harga saat ini juga masih jauh dari rekor tertingginya di Oktober 2025, ketika BTC menyentuh USD 126.080 atau sekitar Rp 2,14 miliar.
Ketegangan Timur Tengah menekan selera risiko
Penurunan terbaru Bitcoin tidak berdiri sendiri. Dalam sepekan terakhir, pasar sempat menunjukkan respons yang lazim terjadi saat investor berharap ada titik terang dari jalur diplomasi. Bitcoin bahkan sempat mendekati USD 72.000 ketika muncul ekspektasi bahwa konflik di Timur Tengah bisa mereda. Namun, harapan itu tidak bertahan lama.
Ketika pembicaraan damai tidak menghasilkan kemajuan berarti, pasar kembali dihantui kekhawatiran soal pasokan minyak. Situasi makin sensitif setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran memburuk, disertai serangan Iran terhadap sejumlah negara Teluk seperti Kuwait dan Arab Saudi. Dalam kondisi seperti ini, aset berisiko seperti kripto biasanya ikut terkena tekanan karena investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman.
Alih-alih mencari peluang spekulatif, pelaku pasar kini lebih fokus pada dampak lanjutan dari ketidakpastian politik dan energi. Selama konflik belum menunjukkan tanda mereda, Bitcoin diperlakukan bukan sebagai aset pelindung, melainkan sebagai instrumen yang ikut terseret arus kekhawatiran global.
Minyak, inflasi, dan bayang-bayang kebijakan The Fed
Rachael Lucas, analis kripto dari BTC Markets, menilai kondisi di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang memperburuk suasana pasar. Jalur ini penting bagi distribusi energi global, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut langsung memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi. Jika harga minyak naik, tekanan inflasi bisa bertahan lebih lama dan membuat Federal Reserve enggan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Menurut Lucas, kombinasi antara inflasi yang masih tinggi dan peluang penurunan suku bunga yang tertunda menjadi beban tambahan bagi kripto. Di lingkungan suku bunga tinggi, aset seperti Bitcoin kerap kehilangan daya tarik jangka pendek karena investor cenderung memilih instrumen yang lebih defensif.
Ia juga menyoroti bahwa pasar saat ini berada dalam situasi yang sangat mudah dipengaruhi headline berita. Artinya, satu perkembangan baru dari konflik AS-Iran atau perubahan harga minyak bisa langsung menggerakkan Bitcoin secara tajam, baik naik maupun turun. Ketidakpastian inilah yang membuat arah pasar kripto belum terlihat jelas.
Bitcoin masih rawan turun ke area USD 60.000
Dalam skenario yang lebih negatif, Bitcoin masih berisiko melanjutkan pelemahan menuju level USD 60.000. Lucas menyebut bahwa guncangan tambahan dari sisi geopolitik dapat mempercepat tekanan jual dan menyeret BTC ke area tersebut. Dengan kondisi pasar yang rapuh, level psikologis seperti USD 60.000 kini menjadi salah satu titik yang mulai diperhatikan pelaku pasar.
Namun, peluang pemulihan tetap terbuka jika tensi konflik antara AS dan Iran mulai menurun dan harga minyak ikut terkoreksi. Dalam skenario itu, Bitcoin berpeluang kembali bergerak di atas USD 70.000. Meski demikian, pergerakan ke arah tersebut sangat bergantung pada kabar terbaru dari Timur Tengah dan bagaimana pasar menafsirkan dampaknya terhadap inflasi serta kebijakan moneter The Fed.
Untuk saat ini, Bitcoin belum menunjukkan arah yang benar-benar solid. Harga yang stabil di sekitar USD 66.966 justru mencerminkan pasar yang menunggu katalis berikutnya. Selama ketegangan geopolitik belum mereda, kripto terbesar di dunia itu kemungkinan besar masih akan bergerak dalam rentang yang penuh tekanan dan mudah berubah hanya karena satu kabar baru.
