crypto

Robert Kiyosaki Prediksi Bitcoin Melesat saat Ekonomi Global Kacau

Gejolak geopolitik kembali mengguncang arah pasar, tetapi tidak semua aset bereaksi dengan cara yang sama. Di tengah ketidakpastian yang mendorong investor mengurangi risiko, Bitcoin sempat tertekan ke kisaran USD 63.000. Namun, tekanan itu tidak bertahan lama. Saat pasar mulai menemukan ritmenya lagi dan likuiditas kembali mengalir ke aset digital, harga Bitcoin ikut pulih hingga mendekati USD 73.000 pada 4 Maret.

Pergerakan ini memperlihatkan satu hal penting: ketika sentimen pasar berubah cepat, aset kripto bisa turun tajam, tetapi juga mampu memantul dengan agresif. Dalam situasi seperti ini, Bitcoin kembali dipandang bukan sekadar instrumen spekulatif, melainkan aset yang sensitif terhadap perubahan kepercayaan investor global.

Bitcoin Pulih Saat Pasar Mencari Titik Tenang

Penurunan Bitcoin ke sekitar USD 63.000 terjadi ketika para trader memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko. Langkah itu lazim muncul saat pasar menghadapi tekanan eksternal, terutama dari ketidakpastian geopolitik yang membuat investor lebih berhati-hati. Meski begitu, pemulihan menuju USD 73.000 menunjukkan bahwa minat terhadap Bitcoin belum hilang, hanya tertahan oleh kepanikan jangka pendek.

Rebound tersebut juga dipengaruhi oleh kembalinya likuiditas ke pasar aset digital. Dalam pasar kripto, aliran dana yang membaik sering kali menjadi pemicu utama pemulihan harga. Begitu tekanan jual mereda, aset yang sebelumnya terkoreksi tajam bisa bergerak naik lebih cepat dibandingkan aset tradisional.

Perak Ikut Bergejolak, Pasokan Tetap Jadi Sorotan

Selain Bitcoin, perak juga menjadi salah satu aset yang bergerak liar. Harga spot logam tersebut sempat menembus di atas USD 100 per ons pada Januari dalam reli spekulatif, sebelum kemudian berfluktuasi di rentang USD 83 hingga USD 100. Perubahan yang tajam ini menegaskan bahwa pasar komoditas pun tidak kebal terhadap sentimen jangka pendek.

Di sisi lain, ada faktor fundamental yang membuat perak tetap menarik perhatian. Permintaan yang kuat dari sektor energi hijau dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) terus memberi tekanan pada pasokan jangka panjang. Dengan kebutuhan industri yang masih tinggi, pasar perak menghadapi kombinasi antara volatilitas harga dan ketatnya pasokan.

Robert Kiyosaki dan Pandangan Soal Uang

Di tengah perdebatan soal aset mana yang paling tahan terhadap kekacauan ekonomi, Robert Kiyosaki kembali menegaskan pandangannya. Ia menyebut emas dan perak sebagai “uang Tuhan” atau God’s money, sementara Bitcoin disebutnya sebagai “uang rakyat” atau the people’s money. Bagi Kiyosaki, pembagian ini mencerminkan perbedaan cara pandang terhadap nilai, kelangkaan, dan kepercayaan publik terhadap masing-masing aset.

Pernyataan itu menempatkan Bitcoin dalam posisi yang menarik: bukan hanya sebagai aset digital, tetapi juga sebagai simbol alternatif terhadap sistem keuangan konvensional. Saat ekonomi global diliputi ketidakpastian, narasi semacam ini kerap mendapat perhatian lebih besar dari investor yang mencari perlindungan nilai di tengah pasar yang rapuh.

Dengan Bitcoin yang kembali mendekati USD 73.000 setelah sempat tergelincir tajam, serta perak yang terus diburu di tengah tekanan pasokan dan kebutuhan industri, pasar tampak sedang bergerak ke fase yang lebih sensitif terhadap berita, likuiditas, dan sentimen pelaku modal. Dalam kondisi seperti ini, prediksi Kiyosaki tentang Bitcoin justru mendapat panggung di saat kekacauan global belum menunjukkan tanda mereda.