Sunday, December 7, 2025
No menu items!
HomeLainnyaRamai di Medsos: Banjir Disebut Akibat Izin Pembukaan Lahan

Ramai di Medsos: Banjir Disebut Akibat Izin Pembukaan Lahan

Bencana alam berupa banjir dan tanah longsor belakangan ini melanda berbagai daerah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Peristiwa ini mengakibatkan korban jiwa berjatuhan serta memutus akses transportasi dan komunikasi di beberapa titik. Pemerintah Aceh bahkan menetapkan status darurat bencana selama dua minggu, dimulai dari 28 November hingga 11 Desember 2025. Namun di tengah kepedihan yang melanda masyarakat, muncul perbincangan hangat di media sosial yang mengaitkan bencana tersebut dengan Zulkifli Hasan—tokoh yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Pangan.

Tidak sedikit warganet yang menuangkan kemarahannya melalui unggahan sosial media, salah satunya berasal dari akun Instagram Balqis Humaira. Dalam tulisannya, Balqis dengan tegas menyebut nama Zulkifli Hasan, menuding bahwa deretan kebijakan para pejabat, termasuk izin pemanfaatan lahan dan pembuatan regulasi, menjadi akar penyebab kerusakan lingkungan yang kini berujung pada banjir dan longsor. Ia menyoroti bagaimana tempat tinggal orang-orang kini tergenang air dan rumah-rumah terkubur tanah akibat kebijakan yang ia nilai tidak berpihak pada perlindungan lingkungan.

Lebih jauh, unggahan tersebut menyiratkan hubungan antara kerusakan ekosistem hutan di Sumatera dengan kebijakan yang lahir ketika Zulkifli Hasan masih menjabat sebagai Menteri Kehutanan di periode sebelumnya. Perdebatan mengenai rekam jejak Zulkifli Hasan terkait isu deforestasi sebenarnya bukanlah hal baru. Masa kepemimpinannya tahun 2009 sampai 2014 kerap menuai kritik tajam dari para pemerhati lingkungan. Satu kasus yang terus menjadi perbincangan adalah perubahan wajah Taman Nasional Tesso Nilo di Riau, yang disebut-sebut secara masif berubah menjadi perkebunan sawit ilegal.

Dalam pernyataannya, Balqis pun membahas tentang kawasan konservasi yang makin tergerus. “Dulu hutan kita sekitar 83 ribu hektare, sekarang yang tersisa hanya sisa-sisa kejayaan masa lalu. Sawit ilegal menjamur di mana-mana. Perambahan terus terjadi secara terbuka,” ucapnya. Ia menekankan bahwa degradasi hutan sebagai pelindung ekosistem telah membuka jalan bagi bencana hidrometeorologi yang makin sering melanda.

Selain kritik di atas, sejumlah warganet juga membagikan ulang cuplikan dari film dokumenter tahun 2013 yang memperlihatkan aktor Hollywood ternama, Harrison Ford, saat mewawancarai Zulkifli Hasan. Dalam video yang kini kembali viral, Ford secara gamblang mengkritik pemerintah Indonesia, khususnya dalam upaya pengendalian laju deforestasi di Tesso Nilo. Momen lawas ini ramai dibicarakan seiring terjadinya bencana banjir yang kembali menguji daya tahan masyarakat.

Tidak sedikit pula pendapat yang menyorot tanggung jawab manusia di balik rusaknya lingkungan. Akun @voxnetizens menekankan bahwa bencana yang menimpa Sumatera bukan hanya karena alam, melainkan hasil dari serangkaian keputusan manusia. “Bencana ini bukan karena bumi marah, tapi karena kebijakan manusia. Yang memperkaya perusahaan sawit itu manusia. Yang menyetujui pembukaan kawasan itu manusia juga,” demikian kutipan yang ramai beredar dan menambah daftar panjang perdebatan seputar kebijakan pengelolaan hutan di Indonesia.

Polemik ini semakin memperkuat suara publik yang menuntut tanggung jawab pejabat terkait serta menegaskan pentingnya perubahan paradigma dalam tata kelola lingkungan hidup. Kini, masyarakat menanti langkah nyata dari para pengambil kebijakan demi mengatasi bencana serupa di masa depan serta menjaga sisa hutan yang ada untuk generasi mendatang.

Sumber: Zulkifli Hasan Disorot Soal Banjir Sumatera, Warganet Ungkit Teguran Harrison Ford Soal Kerusakan Hutan
Sumber: Zulkifli Hasan Dituding Jadi Penyebab Banjir Sumatera, Warganet Ungkit Momen Zulhas Diomeli Harrison Ford Soal Rusaknya Hutan

BERITA TERKAIT

Paling Populer