Dalam sebuah acara Mujahadah Kubro untuk memperingati Hari Lahir Satu Abad NU, Presiden RI Prabowo Subianto menggarisbawahi pentingnya kerukunan antara pemimpin dalam menjaga stabilitas organisasi dan nasional. Prabowo menegaskan bahwa kekuatan sebuah kelompok dan bangsa sangat bergantung pada harmoni yang ada di antara para elite dan tokoh masyarakatnya. Menurutnya, NU selalu memberi contoh dalam menjaga persatuan, mengingatkan bahwa tidak ada bangsa yang bisa maju tanpa kerukunan di antara pemimpinnya. Prabowo juga menekankan bahwa persaingan dan perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi, namun tidak boleh mengorbankan kepentingan yang lebih besar.
Selain itu, Prabowo menyoroti aspek moralitas pemimpin, meminta agar para tokoh bangsa membuang jauh rasa benci, dendam, dan kebiasaan mencari kesalahan di pihak lain. Filosofi Jawa ‘Mikul Dhuwur Mendhem Jero’ diutarakannya sebagai dorongan untuk mengedepankan musyawarah demi mencapai kesepakatan bersama. Prabowo juga menegaskan bahwa perdamaian antar pemimpin, baik di sektor politik, ekonomi, maupun intelektual, menjadi syarat mutlak bagi kemakmuran rakyat, serta membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.
Dalam kesimpulannya, Prabowo mengajak semua pihak untuk selalu menjaga kerukunan, membangun persatuan, dan mencari kesamaan. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada ruang untuk rasa benci, dendam, atau dengki di antara pemimpin, dan mengajak untuk selalu menjunjung tinggi nilai musyawarah demi kepentingan bersama. Pesan yang disampaikan Prabowo tersebut mencerminkan pentingnya kerukunan antarpemimpin dalam membangun kesatuan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

