Akademisi Teknik Geologi Universitas Diponegoro (UNDIP) Yoga Aribowo menilai pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran di Jawa Tengah berpotensi memberi manfaat ganda, yakni memperbaiki kualitas lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Ia mengatakan, semakin besar porsi pemanfaatan PLTP dalam bauran energi nasional, semakin positif pula dampaknya bagi lingkungan hidup. Menurut dia, energi panas bumi dapat menjadi salah satu solusi energi bersih yang relevan untuk masa depan.
“Kalau semakin banyak porsi PLTP, tentu akan berkontribusi positif bagi kualitas lingkungan, baik udara, laut maupun air,” kata Yoga dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (12/9), dilansir Antara.
Yoga menjelaskan, panas bumi memiliki emisi yang relatif rendah dibandingkan sumber energi berbasis fosil. Emisi karbon dioksida dari PLTP diperkirakan sekitar 100 gram per kilowatt hour (kWh), sedangkan emisi hidrogen sulfida kurang dari 1 gram per kWh.
Ia juga menerangkan, energi panas bumi memanfaatkan uap dan air panas yang tersimpan dalam reservoir di kedalaman ribuan meter di bawah permukaan bumi. Air yang digunakan bukan air tanah dangkal seperti pada sumur warga, melainkan bagian dari sistem reservoir panas bumi.
Setelah dimanfaatkan, fluida panas bumi dikembalikan lagi ke dalam reservoir melalui proses reinjeksi agar sumber daya tetap terjaga secara berkelanjutan.
Selain manfaat ekologis, Yoga menilai proyek panas bumi juga dapat menggerakkan ekonomi lokal. Menurut dia, kehadiran proyek berpotensi menciptakan lapangan kerja langsung maupun tidak langsung, serta memunculkan aktivitas usaha pendukung di sekitar wilayah pengembangan.
Peluang itu, kata dia, dapat dirasakan melalui tumbuhnya warung makan, toko, jasa transportasi, hingga tempat kos yang melayani kebutuhan para pekerja dan kegiatan proyek. “Peluang tersebut juga dapat menjadi bagian dari kontribusi sosial melalui program tanggung jawab sosial perusahaan,” kata Yoga.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah memberikan restu kepada PT PLN (Persero) untuk membangun PLTP di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran. Keputusan itu ditandai melalui penerbitan Surat Keputusan (SK) izin panas bumi untuk PLN.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menyampaikan hal tersebut dalam acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition di Jakarta, Rabu (19/8). Ia mengatakan, izin panas bumi untuk wilayah kerja panas bumi Gunung Ungaran akan diberikan kepada PLN, sementara wilayah kerja panas bumi Telaga Ranu diberikan kepada PT Telaga Ranu Geothermal.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, total potensi panas bumi nasional mencapai 23.202,77 megawatt (MW). Adapun kapasitas yang telah terpasang baru 2.776,39 MW, sehingga sekitar 88,4 persen potensi panas bumi Indonesia masih belum tergarap.
Sumber: CNN Indonesia



