Kontroversi Penggunaan Chatbot AI untuk Menutupi Kematian
Sebuah laporan dari China menyorot kontroversi seputar penggunaan chatbot AI dalam kasus seorang ibu lansia yang tanpa sadar berbicara dengan kloning digital putranya yang telah meninggal. Perdebatan pun memanas karena dianggap melanggar batas etika dalam penggunaan teknologi AI.
Bagaimana Peristiwa Ini Terjadi?
Seorang wanita lanjut usia di atas 80 tahun, yang menderita penyakit jantung, tidak menyadari bahwa putranya telah meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Keluarganya memilih untuk merahasiakan kematian tersebut agar sang ibu tidak stres dan sakit semakin parah.
Untuk menutupi kebohongan ini, cucu dari wanita tersebut mencari bantuan penyedia layanan AI. Mereka menggunakan foto, video, dan rekaman suara almarhum untuk membuat kloning digital yang bisa berkomunikasi melalui pesan teks dan panggilan video.
Respon dan Pertimbangan Etika
Kloning digital AI tersebut berhasil membuat sang ibu percaya bahwa putranya hanya pindah ke kota lain untuk bekerja. Dalam setiap percakapan, AI tersebut menghibur ibunya dengan cerita tentang kehidupan barunya di tempat lain.
Namun, penggunaan AI untuk menutupi kematian anggota keluarga menuai kritik tajam. Banyak yang menganggap tindakan tersebut melampaui batas etika dan dapat menyebabkan lebih banyak luka ketika kebohongan terungkap.
Meskipun laporan ini belum diverifikasi secara independen, reaksi dari masyarakat menunjukkan kekhawatiran akan dampak psikologis dan etis dari penggunaan teknologi AI seperti ini. Perdebatan pun terus bergulir, mempertanyakan sejauh mana batas penggunaan chatbot AI dalam konteks pribadi dan emosional.



