LIVEMinggu, 11 Oktober 2026
Ayo Dukung Produk UMKM IndonesiaKLIK DI SINI
BREAKING NEWS
Beranda›Ekonomi›Merek Besar AS di China Melemah, Penjualan Nike dan Ford Turun
Ekonomi

Merek Besar AS di China Melemah, Penjualan Nike dan Ford Turun

Merek Besar AS Mulai Redup di China, Nike hingga Ford Tak Selaris Dulu

Sejumlah merek besar asal Amerika Serikat mulai kehilangan daya tarik di pasar China di tengah meningkatnya persaingan dari merek lokal dan ketegangan geopolitik antara kedua negara.

Bisnis sejumlah nama besar seperti Nike, Starbucks, hingga General Motors dilaporkan menurun dalam beberapa tahun terakhir. China yang sebelumnya menjadi salah satu pasar paling menarik bagi perusahaan AS kini dinilai semakin sulit ditembus.

Mengutip CNBC pada Jumat (21/8), China tetap menjadi pasar penting karena memiliki populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa dan peluang pertumbuhan yang besar. Namun, perubahan preferensi konsumen, kompetisi domestik, dan ketegangan geopolitik membuat banyak merek AS kesulitan mempertahankan pangsa pasar.

Kepala Praktik Ritel Global Bain & Company, Aaron SHeris, mengatakan sejumlah perusahaan AS belum cukup menyesuaikan produk dan strategi mereka dengan kebutuhan konsumen China.

“China adalah pasar yang sangat besar. Angkanya negitu besar dan tumbuh begitu cepat sehingga semua merek ingin mencoba masuk ke sana. Namun, perusahaan-perusahaan tersebut belum menyesuaikan diri dengan pasar lokal serta perubahan struktur dan kebutuhannya,” kata Cheris kepada CNBC.

Ia menambahkan, konsumen China kini makin mempertimbangkan harga produk AS yang dinilai lebih mahal dibandingkan produk lokal. Di saat yang sama, merek China disebut memiliki siklus inovasi yang lebih cepat dan jaringan distribusi yang lebih kuat di pasar domestik.

“Premi harga untuk produk-produk Amerika sering kali tidak sepadan bagi konsumen China. Merek-merek China memiliki siklus inovasi yang cepat dan distribusi yang lebih baik di kawasan tersebut,” ujarnya.

Nike menjadi salah satu perusahaan yang paling terdampak. Bisnis Nike di China menyusut 30 persen sejak 2021, sementara pendapatan tahunan perusahaan di negara itu mencapai level terendah dalam delapan tahun pada musim semi 2026.

Perubahan tersebut terjadi ketika konsumen China semakin beralih ke merek olahraga lokal. Kondisi ini berlawanan dengan pertumbuhan industri pakaian olahraga China yang lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir.

Tekanan serupa juga dirasakan sektor makanan dan minuman. Starbucks, yang masuk ke China daratan pada 1999, menghadapi persaingan ketat dari Luckin Coffee.

Jumlah gerai Luckin Coffee di China kini lebih dari tiga kali lipat dibandingkan Starbucks, dengan penawaran harga yang lebih murah.

Di sektor otomotif, pangsa pasar tiga besar produsen Detroit, yakni GM, Ford Motor, dan Chrysler, turun dari 21,4 persen pada 2019 menjadi sekitar 15,7 persen pada 2025 berdasarkan data S&P Global Mobility.

Perubahan itu juga tercermin pada kinerja bisnis mereka di China. Pendapatan yang sebelumnya sekitar US$2 miliar per tahun pada 2018 berubah menjadi kerugian selama dua tahun berturut-turut pada 2024 dan 2025.

Ford juga mengalami tekanan. Perusahaan mencatat penurunan penjualan di China sebesar 32,4 persen sepanjang 2018-2022.

Saat ini, Ford disebut mengalihkan lebih banyak aktivitas produksi dan penjualannya ke AS, termasuk memindahkan produksi model Lincoln dari China ke AS mulai 2030.

Meski begitu, tidak semua merek AS kehilangan daya saing di China. Lululemon, Ralph Lauren, dan Kentucky Fried Chicken masih mencatat kinerja positif setelah menyesuaikan strategi mereka dengan pasar lokal.

Cheris menekankan bahwa keberhasilan merek-merek tersebut bergantung pada kemampuan menawarkan produk yang sesuai dengan konsumen China dan membangun kapasitas lokal.

“Kuncinya adalah merek mana yang cukup serius dan benar-benar membangun kemampuan lokal yang memadai, bukan sekadar membawa apa yang telah mereka bangun secara global lalu mencoba menjualnya kepada konsumen China,” ujarnya.

Sumber: CNN Indonesia

Penulis

Redaksi_Ekonomi

Redaksi Ekonomi KabarDPR bertugas menyajikan informasi dan pemberitaan seputar perkembangan ekonomi nasional dan global, kebijakan fiskal dan moneter, dunia usaha, investasi, perdagangan, perbankan, pasar modal, industri, UMKM, ketenagakerjaan, energi, serta ekonomi digital.