Ketua DPR RI Puan Maharani meminta penanganan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dilakukan secara terpadu dengan menempatkan keselamatan masyarakat sebagai prioritas. Ia juga menekankan perlunya pemerintah memastikan seluruh kebutuhan warga terdampak dapat terfasilitasi melalui kementerian dan lembaga terkait.
Menurut Puan, erupsi gunung yang berada di Selat Sunda itu telah memengaruhi kesehatan, pendidikan, transportasi, dan aktivitas ekonomi masyarakat di sejumlah wilayah. Karena itu, ia meminta penanggulangan bencana dilakukan secara komprehensif dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Pemerintah melalui kementerian/lembaga terkait juga harus memastikan setiap kebutuhan masyarakat terdampak dapat terfasilitasi,” kata Puan di Jakarta, Senin.
Ia juga meminta pemerintah memastikan ketersediaan masker dan fasilitas kesehatan bagi warga yang membutuhkan. Menurut dia, kehadiran negara harus lebih cepat agar dampak bencana terhadap masyarakat bisa diminimalisir.
“Bencana memang tidak dapat dicegah, tetapi dampak yang disebabkan terhadap rakyat dapat diminimalisir dengan kehadiran Negara yang lebih cepat,” katanya.
Koordinasi pusat dan daerah
Puan menilai pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sebagai satu kesatuan agar warga memperoleh perlindungan yang sama meski berada di provinsi berbeda. Ia meminta pemerintah memberikan jaminan yang jelas kepada masyarakat dalam menghadapi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Tidak boleh ada daerah yang siap dengan stok dan layanan memadai, sementara daerah lain membiarkan masyarakat kekurangan kebutuhan dasar dalam menghadapi bencana erupsi gunung,” katanya.
Selain kebutuhan dasar, Puan menyoroti kondisi pekerja harian, pedagang kecil, nelayan, pelaku UMKM, dan keluarga yang pendapatannya terhenti akibat pembatasan aktivitas. Ia menegaskan kebijakan keselamatan harus dibarengi perlindungan agar warga tidak terpaksa memilih antara menghindari paparan atau tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Status aktivitas vulkanik masih dipantau
Di sisi lain, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau telah berakhir setelah berlangsung selama 25 jam. Meski begitu, aktivitas vulkanik masih terus dipantau karena tingkat kegempaan masih tinggi.
Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan episode erupsi menerus berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Setelah periode itu berakhir, aktivitas erupsi kembali menunjukkan pola letusan ringan yang menjadi karakteristik Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung.
Sumber: ANTARA



