Harga bitcoin (BTC) terus mengalami koreksi pada Jumat malam pukul 19.56 WIB, (21/11/2025), turun di bawah USD 85.000. Analisis menunjukkan bahwa salah satu alasan koreksi harga bitcoin adalah karena adanya aksi jual yang menyebabkan harga turun ke level terendah sejak 2022. Data Coinmarketcap menunjukkan penurunan harga bitcoin sebesar 9,02% dalam 24 jam terakhir, dan 13,94% selama seminggu terakhir, saat ini berada di USD 83.715,89 atau sekitar Rp 1,4 miliar.
Menurut laporan Yahoo Finance, bitcoin sedang mengalami kinerja bulanan terburuk sejak beberapa kebangkrutan perusahaan yang mempengaruhi sektor kripto pada tahun 2022. Harga bitcoin telah turun sekitar seperempat nilainya pada bulan November, penurunan terbesar dalam satu bulan sejak Juni 2022 menurut data dari Bloomberg.
Serangkaian kegagalan perusahaan yang dipicu oleh runtuhnya proyek stablecoin TerraUSD dan bursa FTX milik Sam Bankman-Fried, ternyata mempengaruhi harga bitcoin. Meskipun Gedung Putih saat itu pro-kripto di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan adopsi institusional yang meningkat, harga bitcoin telah turun lebih dari 30% sejak mencapai rekor tertinggi pada awal Oktober.
Tekanan jual semakin terasa dalam 24 jam terakhir, dengan lebih dari USD 2 miliar atau Rp 33,43 triliun posisi leverage yang dilikuidasi berdasarkan data dari CoinGlass. Total likuidasi besar-besaran pada 10 Oktober telah menghapus USD 19 miliar atau sekitar Rp 317,65 triliun dalam taruhan token leverage, serta mengakibatkan kapitalisasi pasar kripto menyusut sekitar USD 1,5 triliun atau Rp 25.078 triliun. Kapitalisasi pasar kripto saat ini berada di posisi USD 2,95 triliun atau Rp 49.314 triliun menurut data dari Coinmarketcap.com.

