Meskipun struktur harga jangka panjang dinilai masih stabil, kondisi pasar yang sedang lesu saat ini menimbulkan kekecewaan bagi sebagian trader yang mengharapkan Bitcoin segera mencetak rekor baru di atas USD 90.000. Tekanan dari luar juga turut memainkan peran penting. Dalam acara World Economic Forum di Davos, CEO Citadel Kenneth Griffin menyoroti potensi tantangan yang dihadapi aset berisiko, termasuk kripto, akibat imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang mendekati 5%. Dengan imbal hasil yang tinggi dari instrumen keuangan yang lebih aman, investor cenderung berhati-hati dan mengurangi investasi pada aset volatil seperti Bitcoin, menyebabkan arus modal menjadi lebih selektif.
Meskipun terjadi koreksi harga, hal ini belum tentu menandakan perubahan tren secara keseluruhan. Selama Bitcoin tidak mencetak titik terendah yang lebih rendah dari sebelumnya pada kerangka waktu yang lebih besar, tren naik masih dianggap utuh. Saat ini, penurunan harga masih dianggap sebagai kesempatan untuk membeli, walaupun tidak seagresif sebelumnya. Untuk mempertahankan skenario optimis, Bitcoin perlu bertahan di area support saat ini. Sebaliknya, jika harga mampu kembali menembus zona USD 95.000–USD 100.000, momentum penguatan diperkirakan akan berbalik mendukung pembeli.
Saat ini, Bitcoin sedang berada dalam fase menunggu: tidak menunjukkan penurunan yang signifikan, namun juga belum mengalami lonjakan harga yang besar.

