LIVESabtu, 10 Oktober 2026
Ayo Dukung Produk UMKM IndonesiaKLIK DI SINI
BREAKING NEWS
Beranda›crypto›Blockchain: Masa Depan Tanpa Bitcoin Sebagai Investasi Terbaik
crypto

Blockchain: Masa Depan Tanpa Bitcoin Sebagai Investasi Terbaik

Di saat banyak orang masih menyamakan blockchain dengan Bitcoin, Jamie Dimon justru memilih jalur yang berbeda. CEO JPMorgan Chase itu terang-terangan mendorong pemanfaatan blockchain untuk urusan bisnis yang sangat praktis, mulai dari pembayaran lintas negara hingga simpanan yang ditokenisasi. Namun, di saat yang sama, ia tetap menolak Bitcoin sebagai aset investasi yang menurutnya layak dibanggakan.

Kontras sikap Dimon ini menarik karena memperlihatkan satu hal penting: bagi sebagian pelaku keuangan besar, blockchain bukanlah soal spekulasi kripto, melainkan soal efisiensi sistem. Di mata Dimon, teknologi ini bisa menjadi alat operasional yang lebih cepat dan lebih rapi dibanding mekanisme konvensional yang selama ini dianggap lambat dan mahal.

Blockchain Dipandang sebagai Alat, Bukan Sekadar Tren

JPMorgan telah ikut mengembangkan JPM Coin sebagai bagian dari upaya memanfaatkan blockchain untuk kebutuhan transaksi dan penyimpanan aset digital tertentu. Langkah ini menunjukkan bahwa lembaga keuangan besar tidak menutup mata terhadap teknologi tersebut. Justru sebaliknya, mereka mulai mencari cara agar blockchain bisa dipakai dalam proses yang memang membutuhkan kecepatan, ketertelusuran, dan efisiensi.

Dalam kerangka itu, blockchain diposisikan sebagai infrastruktur. Nilainya bukan pada euforia pasar, melainkan pada kegunaannya dalam mendukung kegiatan finansial yang lebih modern. Sikap ini membuat Dimon terlihat pragmatis: ia tidak menolak teknologi baru, tetapi juga tidak mau menyamakan semua bentuk inovasi digital dengan investasi yang otomatis menjanjikan.

Bitcoin Tetap Jadi Sasaran Kritik

Meski terbuka terhadap blockchain, pandangan Dimon terhadap Bitcoin tidak berubah. Dalam wawancara pada Januari 2024, ia menyebut Bitcoin sebagai “batu peliharaan”, sebuah sindiran yang kembali menegaskan skeptisismenya terhadap aset kripto tersebut. Sebelumnya, dalam sidang Komite Perbankan Senat AS pada Desember 2023, ia juga menyoroti penggunaan Bitcoin oleh pelaku kriminal dan pengedar narkoba.

Kritik semacam ini bukan hal baru dari Dimon. Ia berulang kali menempatkan Bitcoin sebagai aset yang menurutnya lebih banyak memicu masalah ketimbang memberi manfaat nyata. Di titik ini, perbedaan pandangannya dengan para pendukung kripto menjadi sangat jelas: jika blockchain dipandang sebagai teknologi yang bisa memperbaiki sistem, Bitcoin justru dianggap belum menawarkan alasan kuat untuk disebut sebagai investasi terbaik.

Hak Membeli Ada, tetapi Keyakinannya Tidak Berubah

Menariknya, Dimon tidak sepenuhnya melarang orang membeli Bitcoin. Ia mengakui bahwa setiap individu punya hak untuk memilih, meski ia membandingkan keputusan itu dengan kebiasaan merokok. Perbandingan tersebut memberi sinyal bahwa menurutnya, membeli Bitcoin adalah pilihan yang sah, tetapi bukan pilihan yang ia anggap bijak.

Pernyataan itu memperlihatkan posisi Dimon yang cukup konsisten: ia tidak ingin menghapus kebebasan pasar, tetapi ia juga tidak segan menyampaikan penilaiannya sendiri. Di satu sisi, blockchain tetap dipelajari dan dikembangkan karena manfaat operasionalnya. Di sisi lain, Bitcoin tetap berada di ruang kritik sebagai aset yang belum meyakinkan di mata salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia perbankan.

Gambaran ini membuat satu hal menjadi semakin terang: masa depan blockchain tidak harus bergantung pada Bitcoin. Bagi Jamie Dimon, teknologi bisa tetap maju, dipakai, dan dikembangkan tanpa harus menganggap kripto paling terkenal di dunia itu sebagai ujung dari semua inovasi keuangan.

Atribusi sumber: pernyataan dan sikap Jamie Dimon merujuk pada wawancara Januari 2024 serta sidang Komite Perbankan Senat AS pada Desember 2023.

Penulis

Redaksi crypto

Akun redaksi KabarDPR untuk kategori crypto.