Bitcoin Diingatkan Bisa Terkoreksi Tajam ke USD 10.000, Ini Alasan di Balik Peringatan Analis
Di tengah euforia pasar kripto yang kerap bergerak cepat dan penuh kejutan, sebuah peringatan keras kembali muncul dari analis Bitcoin, McGlone. Ia menilai harga Bitcoin masih menyimpan risiko penurunan yang jauh lebih dalam, bahkan hingga mendekati level USD 10.000. Pandangan itu bukan sekadar spekulasi liar, melainkan bertumpu pada model mean reversion yang menurutnya menunjukkan lonjakan harga pasca-2020 sebagai penyimpangan besar dari tren jangka panjang.
Dalam bacaannya, kenaikan tajam Bitcoin beberapa tahun terakhir tidak bisa dilepaskan dari derasnya likuiditas global. Ketika uang murah mengalir ke berbagai aset berisiko, kripto ikut terdorong naik. Namun, kondisi itu juga berarti harga bisa bergerak ke arah sebaliknya saat likuiditas mulai mengetat. Bagi McGlone, pasar kripto belum tentu kebal terhadap siklus itu.
Lonjakan Harga Dinilai Tak Sepenuhnya Sehat
McGlone menilai pergerakan harga Bitcoin setelah 2020 lebih menyerupai anomali daripada pertumbuhan yang sepenuhnya ditopang fondasi kuat. Dengan pendekatan mean reversion, ia melihat bahwa harga aset yang melesat terlalu jauh dari rata-rata historis pada akhirnya cenderung kembali ke level yang lebih “normal”.
Itulah sebabnya ia tidak menutup kemungkinan Bitcoin mengalami koreksi besar. Dalam pandangannya, pasar kripto pernah menikmati fase ekspansi yang sangat agresif ketika likuiditas longgar, tetapi fase itu tidak selalu bertahan lama. Jika kondisi makro berubah, arah pasar pun bisa berbalik dengan cepat.
Jumlah Token Makin Banyak, Nilai Fundamental Kian Dipertanyakan
Salah satu sorotan utama McGlone adalah membanjirnya token kripto baru yang terus bermunculan dari waktu ke waktu. Ia membandingkan situasi ini dengan gelembung dot-com, ketika terlalu banyak aset bermunculan tanpa dukungan fundamental yang benar-benar kuat. Menurutnya, kondisi serupa kini terlihat di pasar kripto.
Ia menegaskan bahwa pada 2009 hanya ada satu kripto utama, yakni Bitcoin. Kini, pasar dipenuhi jutaan token dengan valuasi yang dalam banyak kasus mencapai miliaran dolar, tetapi tidak semuanya memiliki dasar penggunaan atau nilai ekonomi yang kokoh. Bagi McGlone, kelebihan pasokan aset semacam ini justru bisa melemahkan keseluruhan struktur pasar.
Dalam konteks itu, tekanan terhadap Bitcoin bisa makin besar jika investor mulai menghindari aset berisiko dan memilih instrumen yang dianggap lebih aman, seperti emas dan obligasi pemerintah AS. Jika modal global bergerak ke arah defensif, kripto berpotensi menjadi salah satu aset yang paling dulu terkena dampaknya.
Masih Ada Penopang, Tapi Risiko Makro Tetap Membayangi
Meski peringatan McGlone terdengar tajam, ia bukan berarti mengabaikan faktor-faktor yang saat ini masih menopang harga Bitcoin. Salah satunya adalah berkurangnya pasokan pasca-halving, yang secara teori dapat membantu menjaga kelangkaan aset. Selain itu, cadangan Bitcoin di bursa yang rendah juga menjadi sinyal bahwa tekanan jual langsung tidak selalu besar.
Di sisi lain, arus dana institusi yang masuk melalui ETF Bitcoin masih menjadi penopang penting. Kehadiran investor besar membuat pasar tampak lebih matang dibanding beberapa tahun lalu. Namun, McGlone mengingatkan bahwa dukungan semacam itu belum otomatis membuat Bitcoin kebal terhadap guncangan makroekonomi.
Menurutnya, pasar kripto tetap sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global, kebijakan likuiditas, dan arah ekonomi secara umum. Artinya, sekalipun ada faktor-faktor pendukung yang kuat, risiko koreksi tajam belum benar-benar hilang. Dalam situasi seperti ini, level harga ekstrem seperti USD 10.000 bukan lagi sekadar angka provokatif, melainkan skenario yang menurut sebagian analis masih perlu diperhitungkan.
