ASUS ProArt dan Teknologi XR Ikut Mengangkat Ambisi Visual Pelangi di Mars
Pelangi di Mars datang membawa sesuatu yang jarang disodorkan film Indonesia: cerita fiksi ilmiah yang benar-benar menempatkan manusia di Mars sebagai pusat konflik, emosi, dan pertanyaan tentang identitas. Film ini resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026, dengan latar waktu tahun 2090 dan premis tentang seorang anak yang menjadi manusia pertama yang lahir serta tumbuh di planet merah.
Di balik gagasan yang futuristis itu, film ini juga menonjol karena pendekatan produksinya. Bukan hanya mengandalkan set fisik dan teknik konvensional, Pelangi di Mars memanfaatkan teknologi Extended Reality (XR) dan metode hybrid yang memadukan pengambilan gambar nyata dengan lingkungan virtual 3D. Hasilnya, proses visual film ini tidak sekadar mengejar tampilan megah, tetapi juga konsistensi dunia yang dibangun dari awal.
Produksi yang Mengandalkan XR dan Workflow Kreator Profesional
ASUS terlibat dalam mendukung proses produksi melalui lini ProArt, perangkat yang memang ditujukan untuk kebutuhan kreator profesional. Dalam proyek ini, perangkat tersebut digunakan di beberapa tahap penting, mulai dari pembuatan aset visual, rendering lingkungan tiga dimensi, sampai color grading agar warna dan nuansa gambar tetap terjaga di seluruh proses.
Pendekatan seperti ini menjadi penting karena film bertema Mars menuntut detail visual yang tidak bisa disederhanakan. Lingkungan planet lain harus terasa meyakinkan, sementara interaksi karakter dengan ruang digital juga harus terlihat natural. Di sinilah teknologi XR memberi ruang bagi kru untuk melihat elemen virtual secara real-time saat syuting berlangsung, sehingga keputusan visual bisa dibuat lebih cepat dan presisi.
Kolaborasi tersebut juga melibatkan Mahakarya Pictures dan DOSS Guava XR Studio. Keduanya berperan dalam penerapan virtual production yang memungkinkan lingkungan digital tampil langsung di lokasi pengambilan gambar. Dengan metode ini, proses produksi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bayangan hasil akhir di ruang pascaproduksi, melainkan bisa divalidasi sejak tahap syuting.
Debut Film Panjang Upie Setelah Lima Tahun Proses Produksi
Pelangi di Mars juga menarik perhatian karena menjadi debut film panjang bagi sutradara Upie. Sebelumnya, ia dikenal lewat karya dokumenter dan video musik. Untuk proyek ini, ia menempuh proses yang tidak singkat: produksi film disebut memakan waktu lebih dari lima tahun.
Durasi pengerjaan yang panjang itu menunjukkan bahwa film ini dibangun dengan perhatian besar pada detail dunia cerita. Menggarap fiksi ilmiah lokal bukan perkara sederhana, apalagi ketika film ingin menghadirkan masa depan yang terasa dekat, tetapi tetap punya identitas visual sendiri. Tantangannya bukan hanya pada cerita, melainkan juga pada bagaimana dunia Mars diterjemahkan ke layar tanpa kehilangan sisi emosionalnya.
Premis film ini pun memberi ruang yang luas untuk menjelajahi kehidupan sehari-hari di planet lain. Sosok anak yang lahir dan besar di Mars tidak hanya menjadi simbol masa depan, tetapi juga pintu masuk untuk melihat dinamika keluarga, rasa keterasingan, dan cara manusia beradaptasi di ruang hidup yang sama sekali baru.
Deretan Pemeran dan Sambutan Awal di Gala Premiere
Dari sisi pemain, film ini menghadirkan Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, Myesha Lin, dan Livy Renata. Ada pula pengisi suara untuk karakter robot, yaitu Bimo Kusumo dan Kristo Immanuel, yang ikut memperkaya dunia cerita dengan elemen karakter non-manusia.
Sebelum masuk layar lebar secara resmi, gala premiere Pelangi di Mars telah digelar di Epicentrum XXI, Jakarta. Momen tersebut menjadi penanda bahwa film ini diposisikan sebagai karya yang tidak hanya menjual visual futuristis, tetapi juga pengalaman sinematik yang menggabungkan petualangan, imajinasi, dan teknologi produksi modern.
Dengan latar Mars, pendekatan XR, dan dukungan workflow kreatif yang serius, Pelangi di Mars menempatkan diri sebagai salah satu upaya paling ambisius dalam film Indonesia untuk mengejar fiksi ilmiah yang tidak hanya besar secara skala, tetapi juga rapi secara eksekusi.
Atribusi sumber: informasi film dan keterlibatan ASUS ProArt merujuk pada keterangan resmi yang dibagikan terkait perilisan Pelangi di Mars.
