Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Hadityo Ganinduto mendorong pembentukan BUMN baru di sektor tekstil untuk memperkuat industri hulu hingga hilir sekaligus membuka kembali lapangan kerja bagi pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).
Firnando menilai rencana pembentukan BUMN tekstil yang disiapkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) perlu diarahkan untuk memulihkan ekosistem industri tekstil nasional, bukan sekadar mendirikan perusahaan baru.
“Rencana pembentukan BUMN tekstil ini tentu menjadi langkah yang baik. Kita melihat dalam beberapa waktu terakhir banyak pekerja yang terdampak PHK akibat perusahaan tekstil mengalami tekanan. Karena itu, saya berharap BUMN tekstil baru ini dapat membuka kembali kesempatan kerja bagi masyarakat yang kehilangan pekerjaannya,” kata Firnando dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Penguatan industri yang sudah ada
Firnando mengatakan pengembangan BUMN tekstil perlu mencakup penguatan perusahaan tekstil yang sudah ada, peningkatan teknologi, kapasitas produksi, serta optimalisasi aset dan sumber daya industri yang masih memiliki potensi.
Menurut dia, upaya itu penting agar pembentukan BUMN baru tidak berhenti pada pembentukan badan usaha, melainkan juga mendorong pemulihan industri secara menyeluruh.
“BUMN ini harus bisa menjadi bagian dari upaya menyelamatkan dunia pertekstilan Indonesia. Kita ingin industri tekstil nasional kembali kuat dan berjaya. Karena itu, jangan hanya membangun perusahaan baru, tetapi juga perkuat perusahaan yang sudah ada, tingkatkan teknologinya, ciptakan lapangan kerja, dan bangun ekosistem industri yang mampu bersaing,” ujar dia.
Fokus pada sektor hulu
Firnando juga mendorong penguatan sektor hulu, terutama produksi benang dan bahan baku tekstil lainnya, untuk mengurangi ketergantungan industri nasional terhadap produk impor.
Ia menilai penguatan sektor hulu akan membantu membangun rantai pasok tekstil yang lebih terintegrasi sekaligus meningkatkan kapasitas dan daya saing industri nasional.
“Menurut saya, sektor hulu harus menjadi salah satu fokus utama. Kalau BUMN baru bisa memperkuat produksi benang dan bahan baku tekstil lainnya di dalam negeri, ini akan sangat baik karena kita tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga memperkuat industri tekstil dari hulu sampai hilir,” kata dia.
Firnando menambahkan, rencana pembentukan BUMN tersebut juga perlu disiapkan dengan memperhatikan aspek teknologi, efisiensi, daya saing, penyerapan tenaga kerja, dan keberlanjutan investasi.
Ia berharap BUMN itu dapat mengoptimalkan potensi industri yang sudah ada, menyerap kembali pekerja yang terdampak PHK, mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor, serta meningkatkan daya saing produk tekstil Indonesia di pasar domestik dan global.
Sumber: ANTARA



