TransTRACK Dorong Pemanfaatan AI untuk Perkuat Sistem Manajemen Keselamatan Transportasi Jalan pada Forum Kemenhub–Organda di Medan
Setiap kali kecelakaan bus atau truk besar terjadi di Indonesia, penyebab yang muncul hampir selalu sama. Sopir mengantuk. Kurang konsentrasi. Terlambat mengerem. Atau kehilangan kendali dalam hitungan detik yang berujung petaka. Masalahnya, tragedi seperti itu terus berulang.
Di tengah modernisasi industri transportasi nasional, satu fakta masih sulit dibantah. Faktor manusia tetap menjadi titik terlemah dalam rantai keselamatan transportasi darat Indonesia.
Data Kecelakaan Transportasi Darat di Indonesia
Data yang muncul dalam forum Sosialisasi Penguatan Sistem Manajemen Keselamatan Transportasi Jalan yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat bersama Organda di Medan menjadi alarm yang cukup keras bagi seluruh pelaku industri. Sepanjang 2025, tercatat lebih dari 156 ribu kecelakaan lalu lintas terjadi di Indonesia. Angka tersebut menghasilkan hampir 236 ribu korban, termasuk lebih dari 21 ribu korban meninggal dunia.
Angka itu bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka terdapat keluarga yang kehilangan anggota keluarga, perusahaan yang kehilangan aset produktif, hingga kerugian ekonomi yang nilainya tidak sedikit. Yang membuat situasi semakin serius, berbagai data menunjukkan bahwa mayoritas kecelakaan bukan dipicu kerusakan kendaraan atau kondisi jalan. Penyebab terbesar justru berasal dari perilaku pengemudi.
Pemanfaatan AI untuk Keselamatan Transportasi Jalan
Perusahaan teknologi transportasi TransTRACK memperkenalkan pendekatan keselamatan berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang bukan untuk menggantikan pengemudi, melainkan menjadi lapisan pengawasan tambahan yang bekerja selama 24 jam tanpa mengenal lelah. Melalui Driver Monitoring System (DMS), sistem mampu mengenali tanda-tanda kelelahan, mata yang mulai terpejam, gangguan konsentrasi, hingga penggunaan telepon genggam saat kendaraan sedang berjalan.
Pada saat bersamaan, teknologi Advanced Driver Assistance System (ADAS) membantu memantau situasi di sekitar kendaraan. Ketika risiko tabrakan mulai muncul atau kendaraan keluar jalur secara tidak normal, sistem akan memberikan peringatan lebih awal.
Pendekatan Preventif dalam Keselamatan Transportasi
Chief Operating Officer TransTRACK, Ledi Hari Setiawan, menegaskan bahwa pendekatan keselamatan modern harus bergerak dari pola reaktif menjadi preventif. Perusahaan tidak bisa fokus pada penanganan setelah kecelakaan terjadi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana risiko dapat dikenali dan dicegah sejak awal.
Industri transportasi global sedang mengalami perubahan besar. Keselamatan tidak lagi hanya diukur dari jumlah kendaraan yang beroperasi tanpa insiden, tetapi dari kemampuan perusahaan mengidentifikasi potensi bahaya secara cepat dan akurat.
Dengan memanfaatkan teknologi berbasis AI, armada dapat beroperasi lebih aman. Armada yang beroperasi lebih aman cenderung memiliki biaya perawatan lebih rendah, tingkat kerusakan kendaraan yang lebih kecil, serta produktivitas yang lebih tinggi.
Indonesia sendiri sedang berada di titik penting dalam transformasi sektor transportasi. Dengan meningkatnya jumlah kendaraan komersial dan kebutuhan distribusi logistik yang tinggi, tantangan keselamatan akan semakin meningkat. Penggunaan data, teknologi, dan sistem yang mampu menjaga keselamatan setiap kilometer perjalanan menjadi sangat penting.
