berita

Alumni LPDP Bangga Anaknya Jadi WNA: Kata Wamen Stella

Jakarta — Polemik soal alumnus penerima beasiswa LPDP yang viral karena pernyataannya ingin anaknya kelak menjadi warga negara asing kembali memantik perdebatan soal makna beasiswa negara. Wakil Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bidang Kemitraan dan Sumber Daya Manusia, Stella Christie, menilai kasus ini bukan semata soal ucapan yang melukai banyak orang, tetapi juga cermin dari persoalan yang lebih dalam: pendidikan moral sejak dini.

Stella menegaskan, setiap beasiswa yang diberikan negara seharusnya dipahami sebagai bentuk amanah, bukan sekadar fasilitas yang dinikmati tanpa konsekuensi. Dalam pandangannya, penerima bantuan pendidikan dari negara semestinya membawa kesadaran bahwa ada tanggung jawab sosial yang menyertai manfaat yang diterima.

“Kalau saya lihat, ini menunjukkan ada yang kurang dalam pendidikan moral,” ujar Stella saat menanggapi polemik tersebut. Ia menekankan bahwa rasa syukur dan kesadaran berutang budi kepada negara perlu tumbuh sejak awal, agar penerima beasiswa tidak memandang kesempatan yang diterima hanya sebagai keuntungan pribadi.

Stella: beasiswa bukan sekadar hak, tapi amanah

Menurut Stella, cara pandang terhadap beasiswa sangat menentukan bagaimana seorang penerima akan bersikap setelah menyelesaikan studi. Bila beasiswa hanya dilihat sebagai hak, maka hubungan dengan negara mudah berubah menjadi hubungan transaksional. Sebaliknya, jika dipahami sebagai amanah, ada dorongan untuk kembali memberi manfaat, meski jalurnya bisa berbeda-beda.

Ia juga mengingatkan bahwa respons terhadap kasus seperti ini tidak cukup bila hanya mengandalkan aturan yang makin ketat. Stella menilai pembatasan berlebihan justru berisiko melahirkan sikap mencari celah atau bahkan ketidakpatuhan dari penerima beasiswa. Dalam pandangannya, sistem yang terlalu mengikat tidak otomatis membentuk karakter yang lebih baik.

“Kalau dibatasi terlalu keras, orang bisa mencari cara untuk menghindari tanggung jawab,” kata Stella dalam penjelasannya. Karena itu, ia lebih menekankan pentingnya membangun kepercayaan dan memberi ruang kepada penerima beasiswa untuk tumbuh menjadi individu yang tetap punya kontribusi bagi Indonesia, meski jalur pengabdiannya tidak selalu harus berada di dalam negeri.

Contoh diaspora yang tetap memberi dampak

Untuk memperkuat pandangannya, Stella menyebut sejumlah ilmuwan diaspora Indonesia yang dinilai tetap memberi manfaat bagi bangsa dari luar negeri. Ia mencontohkan Prof. Vivi Kashim di Tiongkok, Prof. Sastia Putri di Jepang, dan Prof. Haryadi di Amerika Serikat sebagai sosok-sosok yang menunjukkan bahwa kontribusi untuk Indonesia tidak selalu harus dilakukan dengan tinggal di tanah air.

Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa Stella tidak melihat keberadaan warga Indonesia di luar negeri sebagai masalah. Yang lebih penting, menurut dia, adalah apakah seseorang masih membawa semangat memberi nilai tambah bagi bangsa, apa pun status dan lokasi tempat tinggalnya.

Dengan begitu, perdebatan tentang beasiswa tidak berhenti pada soal loyalitas sempit, melainkan bergeser ke pertanyaan yang lebih besar: bagaimana negara menanamkan tanggung jawab moral kepada penerima bantuan pendidikan, tanpa menutup kemungkinan lahirnya kontribusi dari berbagai penjuru dunia.

Viral DS dan permintaan maaf yang menyusul

Polemik ini mencuat setelah seorang penerima beasiswa LPDP berinisial DS mengunggah video yang kemudian ramai di media sosial. Dalam video itu, DS menyampaikan permintaan maaf atas pernyataannya yang dianggap kontroversial dan menyinggung identitas sebagai Warga Negara Indonesia.

DS mengakui ucapannya keliru dan tidak pantas. Ia juga menyatakan penyesalan karena memilih kata-kata yang dinilai merendahkan identitas dirinya sendiri sebagai warga negara Indonesia. Permintaan maaf tersebut muncul setelah reaksi publik menguat dan pernyataannya menuai kritik luas.

Kasus ini memperlihatkan betapa sensitifnya publik terhadap sikap penerima beasiswa negara, terutama ketika ucapan mereka dianggap berseberangan dengan semangat pengabdian yang selama ini melekat pada program seperti LPDP. Di titik ini, perdebatan tak lagi hanya soal satu video viral, melainkan juga soal nilai, tanggung jawab, dan cara negara membentuk generasi penerima beasiswa agar tidak kehilangan arah saat berada di puncak kesempatan.

Atribusi sumber: pernyataan Wakil Menteri Stella Christie dan informasi terkait video DS dirangkum dari pemberitaan yang beredar di media.